Kasus Stunting di 77 Desa

(RF/DG/N-2)
20/2/2019 22:30
Kasus Stunting di 77 Desa
(MI/SUPARDJI RASBAN)

BERDASARKAN hasil survei Lans Gizi Elektronik Pencatatan Dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) Provinsi Bangka Belitung (Babel), terdapat 77 desa di Babel yang mengalami stunting atau gangguan pertumbuhan akibat masalah gizi kronis.

Wakil Gubernur Provinsi Babel, Abdul Fatah, berjanji tahun ini pemprov akan berupaya menangani kasus stunting tersebut. “Berdasarkan data e-PPGBM 13 Februari hingga 15 Februari lalu, dari 309 desa ada 77 Desa di Babel yang mengalami stunting,” kata Wagub, Rabu (20/2).

Rinciannya 77 desa itu ialah empat desa di Belitung Timur, 15 desa di Belitung, 7 desa di Pangkalpinang, 8 desa di Bangka Tengah, 9 desa di Bangka Selatan, dan 9 desa di Bangka. “Dan ada 25 desa di Bangka Barat. Ini terbanyak,” jelasnya.

Penanganan masalah stunting pada tahun ini, lanjutnya, tidak bisa hanya mengandalkan provinsi, tetapi juga harus melibatkan kabupaten/kota dan desa. Pada tahun ini, diutarakan Fatah, Pemprov Babel bersama kabupaten/kota dan desa akan membuat dua program, yakni jika stunting sudah telanjur ada seperti di 77 desa itu, pasokan gizinya perlu penanganan. “Untuk 77 desa yang mengalami stunting ini, kita akan utamakan masalah gizinya,” kata Fatah.

Kedua, jika belum ada kasus stunting, desa-desa tersebut akan diberikan edukasi kepada ­masyarakat. Terutama untuk ibu hamil diberi edukasi agar mendapatkan asupan gizi yang baik.

Masih terkait dengan kesehatan masyarakat, Pemerintah Kota Cimahi bertekad menekan angka masyarakat belum terakses sanitasi layak. Tujuannya untuk mengurangi jumlah warga yang masih melakukan buang air besar sembarangan (BABS).

Sampai saat ini, akses masyarakat terhadap sanitasi dasar masih minim, yakni baru 72,73% dari total jumlah penduduk yang mencapai 535.685 jiwa. Sisanya, 27,27% warga yang belum memiliki septic tank masih membuang hajatnya dari jamban langsung ke sungai.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat pada Dinas Kesehatan Kota Cimahi, Dikke Suseno, ­mengatakan warga yang masih berperilaku BABS kebanyakan berada di wilayah Kelurahan Baros dan Kelurahan Cimahi. “Ada 54% warga di dua kelurahan itu yang tidak mempunyai septic tank, jadi masih BABS,” terangnya. (RF/DG/N-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya