Bandara Baru Yogyakarta Tahan Bencana

Agus Utantoro
18/2/2019 05:30
Bandara Baru Yogyakarta Tahan Bencana
(Illustrasi -- MI/Susanto)

RASA penasaran masyarakat terhadap keberadaan bandara baru Yogyakarta yang dekat dengan wilayah laut dikaitkan dengan ketahanan terhadap kemungkinan gempa dan tsunami terjawab sudah.

Dalam hitung-hitungan konstruksi, Bandara New Yog-yakarta International Airport (NYIA) yang dibangun di Kulon Progo itu dirancang mampu menahan guncangan gempa hingga 8,8 pada skala Richter dan tsunami hingga ­ketinggian 12 meter di ling-kungan ­terminal.

“Bandara ini juga mendapat perlindungan angin kencang dari arah Samudra Hindia dengan adanya tumbuhan penahan angin dan gelombang tinggi,” kata pemimpin proyek NYIA, Taochid Purnomo Hadi, di Yogyakarta, kemarin.

Menurut dia, gempa yang pernah terjadi di kawasan itu tidak pernah lebih dari 8,8 SR dan itu ditetapkan sebagai acu-an membangun bandara tersebut. Selain itu, bangunan di terminal bandara ini dibangun siap untuk menghadapi tsunami hingga 12 meter di dekat terminal, bukan di pantai.

Karena itu, imbuh GM PT Angkasa Pura I (persero) Bandara Adisutjipto, Agus Pandu Purnama, bangunan terminal pul dipersiapkan tetap dapat digunakan saat terjadi tsunami dengan ketinggian maksimum 12 meter. Ia menyebutkan bangunan lantai II terminal berada di ketinggian 15 meter atau lebih tinggi daripada perhitungan ketinggian tsunami.

Bahkan, cadangan air bersih, genset, dan sebagainya juga ditempatkan di lantai II sehingga tetap dapat melayani meski saat itu fungsi bandara sedang terganggu akibat adanya tsunami. Agus menambahkan kawasan bandara ini juga dapat diakses masyarakat sebagai tempat evakuasi saat terjadi bencana.

Untuk menentukan kemampuan bandara menghadapi bencana ini sudah digelar setidaknya tiga kali focus discussion group dengan melibatkan pakar-pakar dalam negeri dan bahkan pakar-pakar Jepang. “Pakar dari Jepang ini kita ikutkan karena di negeri itu banyak bandara yang berada di kawasan pantai,” jelasnya.

Penerbangan asing
Bandara NYIA ini, imbuh Agus Pandu Purnama, akan mulai dioperasikan secara terbatas mulai April mendatang. “Baru layanan penerbangan internasional yang kami pindahkan,” katanya.

Untuk layanan penerbangan domestik masih di Bandara Adisutjipto.

Apakah ke depan akan lebih banyak penerbangan asing? Agus Pandu Purnama menjelaskan saat ini sudah ada sejumlah maskapai penerbangan yang ingin menempatkan NYIA sebagai salah satu rute penerbangannya.

“Dari Middle East antara lain Qatar, (Uni) Emirates (Arab), juga ada Turki, Jepang, dan Australia,” katanya.

Australia bahkan akan me-nempatkan NYIA sebagai destinasi utama. Karena itu, lanjutnya, diperkirakan ada sejumlah penerbangan langsung dari kota-kota di Australia yang langsung menuju Yogyakarta. Ia menambahkan Yogyakarta dianggap memiliki objek wisata yang cukup lengkap, ada wisata pantai, ada wisata gunung, dan herritage.

Sementara itu, untuk layanan haji, hingga saat ini masih belum ada pembicaraan ke arah itu. Karena, ujarnya, untuk layanan haji harus tersedia embarkasi. “Saat ini belum,” tukasnya. (N-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya