Jangan Coba Sentuh Perempuan Suku Anak Dalam

Sri Utami
06/4/2015 00:00
Jangan Coba Sentuh Perempuan Suku Anak Dalam
(MI/Arya Manggala)
INDUK Merugis langsung berlari menjauh bila ada orang tidak dikenal yang mendekati. Tidak hanya Merugis. Induk atau perempuan lain dari suku Anak Dalam atau Orang Rimba juga langsung mundur dan bersembunyi saat melihat kamera yang bergantungan di leher.

''Cepat masuk, ada orang terang (orang asing) datang. Nanti kita difoto,'' teriak induk Merugis sembari dengan cepat berjalan menjauh.

Dalam budaya Orang Rimba, keberadaan perempuan atau mereka sebut betina, sangat dilindungi dan dimuliakan. Berada di kawasan timur Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) yang bisa dicapai setelah sekitar 11 jam perjalanan darat dari Kota Jambi, kelompok rimba Marituha di Desa Terap, Kabupaten Batanghari, ini masih kuat mempertahankan adat.

Dalam berpakaian, perempuan rimba hanya mengenakan kain sarung yang mereka sebut jarik. Terhadap anak gadis suku Anak Dalam, jarik yang digunakan sebatas dada sampai di bawah lutut. Adapun untuk perempuan yang sudah menikah, jarik yang digunakan hanya menutupi bagian bawah perut hingga sampai ke bawah lutut.

''Kami jangan difoto nanti kami kena penyakit,'' cetusnya.

Salah satu pimpinan adat rimba Menti Ngelembo menjelaskan, Orang Rimba percaya perempuan sangat dilindungi dewa dan perempuan ialah perantara dewa.

Hal ini menurut mereka bisa dilihat dari sifat perempuan yang memiliki dua sifat yang kontradiktif, yaitu halus dan kasar.

Laki-laki dilarang mendekati atau menyentuh perempuan, bahkan hanya menyentuh jariknya.

''Betina sangat dijaga dewa. Kalau kata kami, betina punya sifat halus dan kasar. Jadi kalau ada yang menyentuh barang-barang mereka, akan dikenai sanksi adat seperti hukuman cambuk," terangnya.

Dengan alasan itu pula, perempuan rimba tidak boleh diabadikan gambarnya oleh kamera. Bahkan sandasodangun (rumah atau pondok orang rimba) mereka pun dilarang untuk diabadikan kamera.

''Betina kami dan rumah kami tidak boleh diambil fotonya, karena itu sama saja dengan mengambil foto dewa kami. Sansodangun juga tidak boleh karena dewa datang ke sana malam hari,'' jelasnya.

Dalam kepercayaan anak rimba, wujud harimau juga menjadi dewa mereka yang disebut Dewa Merego. Dewa Merego sangat dipercaya sebagai pelindung perempuan rimba, terutama saat proses persalinan perempuan rimba.

''Kalau betina kami melahirkan, Dewa Merego pasti datang sampai 12 ekor. Dewa menjaga betina kami waktu melahirkan,'' imbuhnya.

Dalam adat pernikahan pun, anak rimba hanya mengenal proses berunding atau dijodohkan dua pihak keluarga. Pernikahan dilangsungkan dengan persetujuan dukun dan pimpinan rombong sebagai penghulu.

Proses pernikahan pun singkat, hanya membenturkan dua kepala kedua mempelai sebanyak tujuh kali dan pernikahan pun dianggap sah. Sistem kekerabatan anak rimba ialah matrilineal dan hanya mengenal satu istri.

Meski hanya mengenal satu pasangan, namun adat rimba juga mengenal pernikahan sedarah dari sebelah istri. Pernikahan itu lebih banyak terjadi lantaran saling suka secara diam-diam lalu melakukan pelanggaran. Hukum adat pun terpaksa harus menikahkan keduanya.(T-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya