Lonjakan DBD di Lamongan Capai 40%

Ahmad Yakub
13/2/2019 23:30
Lonjakan DBD di Lamongan Capai 40%
(ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko)

KENDATI tidak dinyatakan kejadian luar biasa, penderita DBD di Kabupaten Lamongan, Jatim, meningkat menjadi 230 orang dengan korban meninggal tiga orang. Padahal, pada pekan lalu jumlah warga yang terjangkit baru 171 penderita. Jumlah warga terjangkit paling banyak di wilayah Kecamatan Lamongan yang mencapai 22 pasien.

“Betul, ada peningkatan jumlah warga yang terjangkit,” kata Kepala Bagian Humas dan Protokoler Pemkab Lamongan, Agus Hendrawan,  Rabu (13/2).

Warga yang terjangkit DBD, jelas Agus, tersebar di 33 puskesmas se-Kabupaten Lamongan dengan total 230 pasien, akumulasi hingga 12 Febuari 2019. Rinciannya, penderita DBD dan dengue shock syndrome (DSS) sebanyak 181 pasien sudah pulang (sembuh), 46 pendeita dirujuk dan tiga meninggal.

Pemkab Lamongan, jelas dia, terus mengalakkan pembasmian sarang nyamuk (PSN) dengan menerapkan program 3 M. Termasuk, melakukan penyemprotan atau fogging khusus di 160 titik dan fogging swadaya di 54 desa.

Hal senada terjadi di Cilacap dan Banyumas, Jawa Tengah. Hingga kini, di Cilacap tercatat 129 kasus, dengan jumlah kematian tiga kasus. Adapun di Banyumas, DBD telah terjadi 52 kasus dengan dua kasus kematian.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Cilacap Marwoto mengakui, serangan DBD di Cilacap meningkat. Jumlah kasusnya sampai pertengahan Februari tercatat 129 kasus. Jumlah ini naik dibandingkan pada Januari baru 71 kasus.  

“Kami terus lakukan pengasapan di wilayah-wilayah yang muncul kasus DBD. Kami juga mengajak warga untuk ikut aktif PSN,” ujar Marwoto.

Korban berjatuhan
KLB DBD di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, membuat Dinas Kesehatan setempat kewalahan menangani pasien DBD di sana. Bahkan, jumlah korban meninggal terus bertambah. Kemarin, satu pasien DBD berusia satu tahun meninggal di RSUD Sumba Timur. Dengan demikian penderita DBD yang meninggal menjadi sembilan orang.

“Kita sudah melakukan fogging (pengasapan), fokus di seluruh wilayah endemis DBD, pemberian abate dan sosialiasi tentang 3M Plus. Sayangnya belum seluruh masyarakat sadar melakukan kegiatan PSN,” dalih Kepala Dinas Kesehatan Sumba Timur dokter Chrisnawan Try Haryantara, Rabu (13/2).

Chrisnawan saat dihubungi via telepon berada di Makassar, Sulawesi Selatan, mengatakan bersama Bupati Sumba Timur Gideon Mbilijora menghadiri sebuah pertemuan sejak dua hari terakhir.

Menurutnya, fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, sedangkan jentik nyamuk di kaleng dan ban bekas yang berserakan di halaman rumah penduduk, tidak dibersihkan warga. Jentik nyamuk itu akan menetas antara 5-7 hari. Kondisi tersebut yang membuat dinas kesehatan kewalahan menangani DBD.

Chrisnawan mengaku sudah minta bantuan Bupati Sumba Timur menggerakkan semua elemen masyarakat melakukan gerakan 3M Plus untuk membasmi jentik nyamuk DBD. “Saya tidak mampu menggerakkan masyarakat kalau tanpa dukungan dari kepala daerah,” dalihnya.

Menurutnya, pemerintah daerah juga sudah menggerakkan warga untuk kerja bakti membersihkan lingkungan, itu pun masih ada korban DBD. Persoalan lain menurutnya, ialah banyak pasien DBD dibawa ke rumah sakit dalam kondisi mengalami pendarahan.

Akibatnya, nyawa pasien tidak tertolong. Untuk mengantisipasi korban terus berjatuhan, Dinas Kesehatan melakukan sosialisasi menggunakan mobil di kelurahan dan desa. Saat ini tiga daerah di NTT sudah mengumumkan KLB yakni Kota Kupang, Manggarai Barat, dan Sumba Timur. (LD/PO/N-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya