Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MARAKNYA alih fungsi lahan pertanian di berbagai daerah bakal merontokkan ketahanan pangan nasional. Salah satunya di Provinsi Jawa Barat, dalam tempo 5-10 tahun mendatang julukan Jabar sebagai lumbung pangan nasional tinggal kenangan.
Kerisauan itu disampaikan Sekretaris Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Jabar Boy Supangat di Balai Besar Pelatihan Pertanian Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (6/2).
Dia menuturkan, setiap hari, 10-20 hektare lahan pertanian di wilayah Jabar tergerus akibat dampak alih fungsi lahan. Jika pemerintah tak segera membuat regulasi, laju alih fungsi makin deras. Apalagi, harga komoditas pangan tidak sebanding dengan harga komiditas lainnya.
Dia mencontohkan, Kabupaten Majalengka sebagai salah satu daerah dengan laju alih fungsi lahan yang cukup tinggi akibat dampak pembangunan Bandara Kertajati, jalan tol, pabrik, dan lain-lainnya. Pertumbuhan pembangunan di daerah itu telah menggerus area lahan produktif.
“Kalau alih fungsi lahan dibiarkan, tidak ada pergub atau perda dari kabupaten/kota, saya yakin ketersediaan pangan di Jabar akan terancam. Apalagi tidak ada pencetakan lahan pertanian baru,” ujarnya.
Sementara itu, Idham Sakti Harahap, pakar hama dan penyakit tumbuhan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), menyebut ada ancaman dari hama ulat Spodoptera frugiperda yang berasal dari AS. Kerusakan akibat hama ulat itu jauh lebih besar daripada hama ulat yang sudah ada di Indonesia. Jenis Spodoptera frugiperda menyerang tanaman pangan seperti jagung, padi, dan gandum.
“Hama ulat Spodoptera frugiperda ini mulai mewabah di Myanmar, India, dan Filipina. Jika tidak kita antisipasi sejak dini, tinggal selangkah lagi dari Filipina ke Indonesia melalui Sulawesi,” ujarnya.
Idham berharap pemerintah mengambil langkah antisipasi yang memadai mengenai hal itu. Apalagi, ulat Spodoptera frugiperda ini sangat cocok hidup dan berkembang biak di Indonesia dengan iklim tropis. “Jangan sampai seperti kasus hama kentang dan kutu loncat kembali terulang. Kami sudah mewanti-wanti agar mewaspadainya, ternyata kita tidak cukup melakukan antisipasi,” ungkap Idham.
Penyebaran hama ulat Spodoptera frugiperda, jelas Idham, bisa melalui perdagangan sayur-mayur, buah-buahan antarnegara. Karena itu, fungsi karantina harus dioptimalkan agar larva tidak masuk. Selain itu, saat menjadi kupu-kupu, Spodoptera frugiperda bisa terbang sejauh 100 km terbawa angin.
“Kalau pertanian kita terkena hama ulat ini, kerusakannya sangat cepat. Dalam dua hari bertelur dan siklus hidupnya selama 25 hingga 35 hari,” tandasnya.
Terpisah, Kepala BPS Nusa Tenggara Timur (NTT) Maritje Pattiwaelapia mengatakan sektor pertanian menyumbang 28,40% terhadap laju pertumbuhan produk domestik regional bruto (PDRB) NTT pada 2018. Sayangnya, sektor itu hanya tumbuh 3,08%. “Rekomendasi kami kepada gubernur ialah mendorong sektor yang share-nya besar seperti pertanian,” kata Martije Pattiwaelapia di Kupang, kemarin. (DG/PO/N-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved