Masih Ada Warga Tolak Fogging

Rendy Ferdiansyah
05/2/2019 23:45
Masih Ada Warga Tolak Fogging
(ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

ADA sebagian masyarakat menolak untuk mendapat layanan fogging (pengasap­an) meski penyakit demam berdarah dengue (DBD) sudah menjangkiti warga.

Seperti di Provinsi Bangka Belitung, sebagian masyarakat menolak adanya pengasapan di wilayah mereka. Staf Ahli Penyakit Menular Dinas Kesehatan Bangka Belitung Syaifullah mengatakan selama ini pengasapan tidak berjalan dengan baik. “Masih ada masyarakat yang menolak sehingga fogging belum berjalan dengan baik,” ungkap Syaifullah,  Selasa (5/2).

Menurutnya, pengasapan merupakan langkah terakhir yang dapat dilakukan untuk mencegah berkembang biaknya nyamuk demam berdarah. Sebelum pengasapan, petugas telah melakukan upaya-upaya seperti penyelidikan epidemiologi, pembe­rantasan sarang nyamuk di lingkung­an yang ditemukan adanya kasus DBD. “Fogging ini langkah terakhir untuk mencegah menularnya DBD melalui nyamuk pembawa virus,” terangnya.

Ia pun berharap masyarakat mendukung kegiatan pengasapan itu agar nyamuk DBD bisa mati dan tidak berkembang biak. Sepanjang Januari dinas kesehatan setempat sudah melakukan pengasapan sebanyak 236 kali di kabupaten/kota di Babel.

Dari Cianjur, Unit Transfusi Darah PMI setempat setiap harinya menyiapkan sekitar 20 labu trombosit bagi pasien DBD. Stok sebanyak itu relatif mencukupi karena permintaan trombosit rata-rata sebanyak 100 labu per bulan.

“Untuk DBD, stok trombosit ada, tapi tidak terlalu banyak. Setiap hari kita menyiapkan sekitar 20 labu trombosit. Untuk tiap golongan darah disiapkan lima labu,” terang petugas quality control UTD PMI Kabupaten Cianjur, Sandi Junaidi.

Sandi menyebutkan stok yang disiapkan di UTD PMI tidak terlalu banyak lantaran usia daya trombosit hanya bertahan paling lama lima hari. Biasanya stok yang disiapkan bisa saja dilakukan secara mendadak ketika ada permintaan. “Tapi sejauh ini permintaan (trombosit) tidak terlalu meningkat.”

Dari Daerah Istimewa Yogyakarta, selama Januari dan awal Februari, tercatat 37 warga Kabupaten Gunungkidul terjangkit DBD. Angka itu lebih tinggi hampir dua kali lipat daripada periode yang sama pada 2018, hanya 19 orang.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, Priyanta Madya Satmaka, mengatakan saat ini para juru pemantau jentik diminta lebih aktif lagi memonitor di setiap rumah.

Jumlah pasien meningkat
DBD masih menjangkiti Nusa Tenggara Timur (NTT). Bahkan jumlah penderita kian bertambah. Laporan dari Dinas Kesehatan NTT per 5 Februari, pasien DBD yang dirawat di rumah sakit yang tersebar di 22 kabupaten dan kota tercatat 1.651 orang, 16 orang di antaranya meninggal dunia. Padahal, sebelumnya jumlah pasien DBD yang meninggal masih 15 orang. Tambahan satu orang berasal dari Ende.  

Pada hari sebelumnya jumlah pasien DBD mencapai 1.563 orang. Jumlah itu lebih banyak jika dibandingkan dengan wabah DBD di NTT sejak 2008. Kepala Dinas Kesehatan NTT Dominikus Mere menyatakan pihaknya telah memberikan bantuan lima mesin pengasapan untuk Kabupaten Manggarai Barat yang saat ini mengalami kejadian luar biasa. Selain pengasapan, ada lima galon abate, plasma darah, dan kantong darah. (BB/AU/PO/N-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya