Sumbar Perbanyak Pos Gizi Nagari

(YH/Ant/N-2)
30/1/2019 23:15
 Sumbar Perbanyak Pos Gizi Nagari
( ANTARA FOTO/Maulana Surya)

DINAS Kesehatan Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, akan menambah dan membentuk Pos Gizi Nagari (Posginag) di setiap nagari pada tahun ini untuk penanggulangan dan penurunan derita gizi buruk oleh anak balita dan anak. Keberadaan Posginag ini untuk menekan jumlah kasus gizi buruk pada anak balita yang hingga kini masih tinggi.

“Posginag ini mempunyai misi kewaspadaan gizi terhadap balita. Seperti updating data, sasaran pemberian gizi, serta pelacakan gizi balita secara dini,” jelas Sekretaris Dinkes Pesisir Selatan, Yuni Andra, Rabu (30/1).

Saat ini, sudah ada 20 unit Posginag, dan untuk tahun ini ditambah lagi sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan nagari yang ada. “Tahun ini kita tambah lagi. Kalau bisa setiap nagari memiliki pos gizi. Pada 2018 kita sudah menyiapkan 100 tenaga kesehatan untuk mendampingi,” tambahnya.

Dari data Dinkes Pesisir Selatan, tercatat dari 45 ribu anak balita yang lahir dan tumbuh, di antaranya mengalami gangguan gizi stunting sekitar 3.800 orang, gizi lebih 300 orang, dan gizi buruk 16 orang sepanjang 2018. “Jika dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya, penanganan kita cukup baik, dan angkanya terus mengalami penurunan, seperti halnya dalam kasus stunting dari 13,2% pada 2017, turun menjadi 8,6% atau 3.800 orang,” jelasnya.

Angka stunting di Kabupaten Tangerang sebesar 28,8% dan di bawah angka Provinsi Banten sebanyak 29,6%. Untuk mencegah stunting, Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang bekerja sama dengan Dinas Sosial, Majelis Ulama Indonesia, dan lembaga lainnya.
Sementara itu, di Sulawesi Tengah, pemerintah provinsi setempat mengajak masyarakat mencegah kekurangan gizi yang bisa berdampak terhadap stunting.

“Di Sulawesi Tengah, proporsi balita stunting sejak 2015 hingga 2017 masih berada pada kisaran di atas 30%. Lebih tinggi dibanding target nasional, yakni 28%,” kata Asisten Administrasi Pembangunan, Hukum, dan Politik Setda Provinsi Sulawesi Tengah, Faisal Mang.
Menurutnya, jika keluarga sudah menyadari akan pentingnya gizi, keluarga akan berubah dan meningkatkan perilaku sadar gizi untuk mencegah stunting.

“Ada dua strategi intervensi gizi untuk mencegah stunting. Intervensi spesifik yang menyentuh sektor kesehatan jangka pendek. Kedua, intervensi sensitif yang melibatkan kerja sama lintas sektor selain kesehatan. (YH/Ant/N-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya