Banjir di Wilayah Pantura Meluas

Akhmad Safuan
29/1/2019 08:30
Banjir di Wilayah Pantura Meluas
Warga mendorong gerobak dagangan saat melintasi banjir di jalur pantura kota Kendal, Jawa Tengah, Senin (28/1/2019).(ANTARA FOTO/Anis Efizudin)

HUJAN lebat yang tidak berhenti mengguyur wilayah pantura Jawa Tengah menyebabkan beberapa daerah terendam banjir.

Pemantauan Media Indonesia kemarin, daerah seperti Kendal, Semarang, Demak, Kudus, dan Pati dilanda banjir setinggi 20 sentimeter hingga 1 meter sehingga aktivitas warga dan perkantoran lumpur.

Genangan air di jalur Semarang-Demak tepatnya di Desa Sriwulan, Kecamatan Sayung, membuat arus lalu lintas tersendat, baik dari Semarang maupun Surabaya. Antrean kendaraan mengular hingga 5 kilometer lebih.

Meluapnya sejumlah sungai di Kendal membuat beberapa desa di Kecamatan Rowosari, Cepiring, dan Kendal Kota terendam dengan ketinggian 20-100 cm. Demikian halnya di Kudus, banjir setinggi sekitar 1 meter melumpuhkan desa-desa di Kecamatan Mejobo, Jati, dan Kaliwungu.

"Banjir dikhawatirkan meluas karena intensitas hujan tinggi sehingga banyak sungai meluap," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus, Bergas Catur, kemarin.

Kondisi terparah terjadi di Kabupaten Pati. Hujan lebat yang terus-menerus menjadikan banjir di Kecamatan Dukuhseti dan Kayen semakin meluas dengan ketinggian air rata-rata 1 meter lebih.

Kepala BPBD Pati, Sanusi Siswoyo, mengatakan di Kecamatan Dukuhseti setidaknya tiga desa terendam, yaitu Desa Alasdowo, Dukuhseti, dan Banyutowo. Adapun di Kecamatan Kayen, ada delapan desa tergenang banjir karena luapan Sungai Mangin dari Bendung Tambak Winong.

"Bangunan liar di bibir sungai juga jadi penyebab banjir," keluh Sanusi.

"Warga harus waspada banjir, tanah longsor, angin ribut, dan ombak tinggi karena kecepatan angin rata-rata 10-35 kilometer per jam," ujar petugas BMKG Semarang, Syifa'ul Fuada.

Penyakit

Banjir setinggi 40-50 cm yang tidak kunjung surut di Batang dan Pekalongan membuat ribuan warga bertahan di pengungsian. Penyakit pun mulai menghinggapi mereka.

Sekitar 70% wilayah Kota Pekalongan terendam banjir dan 4.000 lebih warga yang terdampak mengeluhkan gangguan kesehatan. Seorang warga Pekalongan bernama Salma, 81, penduduk Jalan Truntung, Klego, Gg 3, kemarin ditemukan meninggal di rumahnya.

Pemkab Banjarnegara ber-ulang kali meminta warga di wilayah rawan bencana meningkatkan kewaspadaan. Sebagaimana diungkap Kepala Pelaksana Harian BPBD Banjarnegara Arif Rahman. "Curah hujan masih tinggi terutama di daerah rawan bencana. Selama 2018, di Banjarnegara terjadi 149 kejadian tanah longsor, angin kencang 25 peristiwa, dan banjir 6 kejadian."

Sementara itu, banjir bandang setinggi 70 cm melanda Desa Kranji, Kecamatan Paciran, Lamongan, kemarin siang, dan merendam 180 rumah penduduk. Banjir telah menghentikan aktivitas warga karena terputusnya jalan penghubung antardesa.

Kepala Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyatakan banjir di Kendal, Batang, dan Pekalongan disebabkan tingginya intensitas hujan. Selain itu, banjir di Pekalongan dipicu meluapnya Sungai Loji dan Sungai Bremi. "Debit hujan yang seharusnya keluar satu bulan, turun dalam sehari dan terjadilah rob yang merendam ribuan rumah." (LD/YK/*/X-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya