Hotel di Solo Gaet Pengunjung Lewat Kreasi Menu Makanan

WIdjajadi
09/1/2019 19:47
Hotel di Solo Gaet Pengunjung Lewat Kreasi Menu Makanan
(MI/WIDJAJADI )

SEJUMLAH hotel berbintang di Kota Solo terus melakukan improvisasi dan  inovasi usaha ditengah rendahnya okupansi tingkat penginapan tamu di triwulan pertama tiap tahun. Salah satunya adalah dengan memunculkan kreasi fmakanan dan minuman (food & beverages/F&B).

Hal itu setidaknya terlihat dari upaya 3 hotel berbintang di Kota Solo, yaitu seperti Best Western Premier Solobaru, The Sunan Hotel Solo, dan Syariah Hotel Solo (SHS) yang meluncurkan kreasi F&B dengan menu baru sebagai upaya mendongkrak pendapatan hotel.

Best Western Solobaru misalnya , menghadirkan tiga menu andalan di Januari ini. Yakni, Kambing Bakar Madu, Kolagen Soup, dan Kwetiau Laksa.

"Kambing bakar madu berbahan dasar daging kambing yang dibakar menggunakan bumbu spesial dan diberi saus madu saat dibakar. Makanan angat diminati tamu tamu hotel" kata  Executive Chef Best Western Premier Solobaru, Cucun Rusmana.

Sementara Syariah Hotel Solo (SHS) mengeluarkan promo F&B yang berlabel Top Chef Menu Suggestion Of Three Months periode Januari maret, dengan tema "Syariah Arabic Festive New Season".

Selain itu ada, Indian Chicken Tika Masala, Indian Spiced Masala Lamb Pitas, Indian Gulab Jamun, Syariah Healthy Drink, Wedang Colomadu.

Baca juga : 11 Kecamatan di Klaten Berpotensi Banjir

DI The Sunan Hotel Solo, pihak hotel menggelar promo San Fransisco Fishermans Festival di bulan pertama tahun 2019 ini.

"Ya ini sebagai improvisasi dan boleh disebutnjuga inovasi segmen bisnis perhotelan, ketika okupansi tingkat hunian rendah. FNB mampu mendongkrak pensapatan hotel," papar  Executive Sous Chef The Sunan Hotel Boedi Prasetyo.

Terpisah General manager (GM) Novotel-Ibis Stylesh Solo Budi Wahjono mengakui, hotel-hotel di Solo masih mengandalkan ajang bersifat konferensi dan rapat atau MICE karena wisatawan yang menginap di hotel tidak terlalu banyak

Kondisi itu setidaknya terjadi pada triwulan pertama tiap tahun yang berakibat langsung pada okupansi hotel yang menurun.

"Biasanya memang sepi, karena tidak banyak pemerintahan dan korporasi yang menggelar event MICE. Event MICE lebih banyak digelar di triwulan kedua dan selanjutnya. Karena itu, ketika okupansi tingkat hunian rendah,berbagai cara tentu dilakukan pihak manajemen agar hotel tetap bisa menerima pendapatan. Caranya antara lain ya menawarkan menu baru bagi para tamu hotel atau masyarakat umum," katanya. (OL-8)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ghani Nurcahyadi
Berita Lainnya