PJB Kembangkan Inovasi Tekan Kalori Batu Bara

Bagus Suryo
09/1/2019 09:50
PJB Kembangkan Inovasi Tekan Kalori Batu Bara
Seorang pekerja melintasi areal pembangkit listrik di PLTU Paiton milik PT Pembangkitan Jawa-Bali (PJB), Probolinggo, Jawa Timur, Selasa (8/1). PT PJB Unit Pembangkitan Paiton mengembangkan inovasi menurunkan kalori batu bara dengan memodifikasi mesin peng(MI/Bagus Suryo)

PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) Unit Pembangkitan Paiton di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, mengembangkan inovasi menurunkan kalori batu bara dalam memproduksi listrik agar lebih ramah lingkungan.

"Penurunan kalori batu bara dilakukan secara bertahap. Sejak tahun 2017 hingga sekarang, PLTU Paiton 1 dan 2 dioperasikan dengan batu bara kalori 4.500 kcal/kg," tegas Direktur Operasi 1 PT PJB, Sugiyanto di Probolinggo, Rabu (9/1).

PLTU Paiton berkapasitas 2 x 400 MW sengaja didesain menggunakan bahan bakar batu bara kalori tinggi 5.300 kcal/kg sampai 6.300 kcal/kg. Seiring larangan impor dan semakin langkanya batu bara berkalori tinggi pada 1995, pihaknya tergerak mengembangkan inovasi mengubah konsumsi batu bara dari kalori tinggi ke kalori rendah.

"Kami memodifikasi beberapa bagian mesin, diantaranya mesin penggiling batu bara dan boiler," ujarnya.

Hasilnya tidak mengganggu keandalan unit pembangkit. Kandungan sulfur dari emisi gas buang pun tidak lebih dari 300 Mg/M2, jauh lebih rendah dari baku mutu yang ditetapkan pemerintah sebesar 750 Mg/M2. 

"Penggantian konsumsi batu bara dari kalori tinggi ke kalori rendah juga menghemat anggaran hingga Rp148,36 miliar per tahun," tuturnya.

 

Baca juga: Warga Desa Balesari Terima Sumur Bor dari Kementerian ESDM 

 

Inovasi itu menempatkan PLTU Paiton masuk dalam jajaran perusahaan Top 10 Dunia termasuk Penghargaan tertinggi di bidang lingkungan hidup, Proper Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan selama dua tahun berturut-turut. 

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignatius Jonan juga memberikan apresiasi atas terobosan membuat PLTU lebih efisien dan ramah lingkungan tersebut.

Menteri Jonan berharap, inovasi terus dikembangkan untuk selanjutnya ditularkan ke pembangkit-pembangkit lain. Hal itu mengingat ketersediaan batu bara dengan kalori dan kandungan sulfur yang diinginkan makin sulit didapatkan di masa mendatang.

"Kandungan sulfur dalam batu bara tidak bisa diubah. Yang bisa diubah teknologinya agar dalam lima tahun ke depan kandungan sulfur dalam emisi gas buang terus ditekan, kalau bisa hingga di bawah 100 Mg/M2. Selain itu, saya berharap PT PJB memanfaatkan renewable energi," tutur Ignatius Jonan. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dwi Tupani
Berita Lainnya