Longsor Susulan Terjadi di Sukabumi

Benny Bastiandy
04/1/2019 08:05
Longsor Susulan Terjadi di Sukabumi
BARANG MILIK KORBAN LONGSOR: Warga mengangkat barang yang masih bisa digunakan setelah tanah longsor di Desa Sirnaresmi, Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, kemarin. Pada hari ke-4 pencarian, tim SAR gabungan mencatat jumlah korban meninggal dunia 18(MI/BENNY BESTIANDY)

MATERIAL di titik utama longsor di kawasan perbukitan di Kampung Garehong, Dusun Cimapag RT 05/04, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, kembali bergerak, Rabu (2/1) sekitar pukul 23.20 WIB.

Longsornya material yang kebanyakan bebatuan itu sudah diprediksi tim pencarian dari awal. "Semalam (Rabu malam) memang terjadi longsoran bebatuan dari titik mahkota. Sebetulnya dari awal kami sudah amati secara visual bebatuan itu," kata Kepala Operasional Badan SAR Nasional (Basarnas) Jakarta, Made Oka, kepada Media Indonesia, kemarin.

Oka mengatakan prediksi longsornya material bebatuan diperkuat juga dengan foto visual yang diambil dengan menggunakan drone. Apalagi, setiap hari terus diguyur hujan cukup deras.

"Karena sudah jenuh, material bebatuan longsor. Safety officer masih tetap mengamati kondisi di atas saat tim pencarian masing-masing bekerja di setiap sektor," ucapnya.

Saat memasuki hari keempat pencarian korban, tim dibagi enam sektor. Mereka dibagi tugas menjadi dua sif. Setiap sektor akan didampingi koordinator untuk mengefektifkan pencarian.

Setiap tim fokus di setiap sektor yang sudah ditentukan. "Nanti di setiap sektor ada yang men-support, misalnya untuk keperluan airnya, saluran airnya, alkonnya, kemudian jalur untuk mengevakuasinya jika ditemukan korban dari setiap sektor," terangnya.

Proses pencarian masih didukung Unit Satwa dari Mabes Polri. Upaya itu dilakukan untuk mendeteksi awal titik keberadaan korban yang belum ditemukan.

Ditemukan kembali

Tim satuan tugas terpadu pencarian korban tanah longsor di Kampung Garehong kembali menemukan lima jenazah. Hingga hari keempat pencarian kemarin petang, tim satgas terpadu sudah menemukan sebanyak 18 jenazah.

Direktur Operasional Basarnas Brigjen Budi Purnama mengatakan proses pencarian hari keempat didukung kondisi cuaca yang cukup bersahabat. Sejak pagi hingga petang, di lokasi kejadian nyaris tak turun hujan. "Hari ini (kemarin) kami menemukan lima korban. Sebelumnya kami (telah) menemukan 13 korban sehingga total sebanyak 18 korban," kata Budi kepada wartawan saat menggelar konferensi pers di posko terpadu, kemarin.

Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan 29 kepala keluarga (KK) yang rumah terdampak bencana tanah longsor di Kampung Garehong harus direlokasi. "Agar rumah warga bisa berada di tempat yang aman dari bencana," katanya, di Sukabumi, kemarin.

Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memasang alat pemantau ketinggian air atau sensor water level untuk memantau kedalaman air di Pulau Sebesi yang dekat dengan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.

"Alat ini sekaligus sebagai data dalam menentukan peringatan dini bila terjadi tsunami di Selat Sunda karena gempa tektonik dan vulkanis," kata Deputi Bidang Instrumentasi, Kalibrasi, Rekayasa, dan Jaringan Komunikasi BMKG Widada Sulistya yang dihubungi di Jakarta, kemarin.

Pemkab Lampung Selatan menindaklanjuti perintah Presiden Joko Widodo agar merelokasi masyarakat pesisir Desa Waymuli, Kecamatan Rajabasa, yang terdampak tsunami, dengan langkah awal menyurvei lahan yang akan dibangun permukiman. "Ada info tanah 2 hektare di Desa Waymuli," kata Kepala BPBD Lampung Selatan, I Ketut Sukerta. (Ind/Ant/X-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya