Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PENELITI Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Eko Yulianto kembali mengingatkan potensi bahaya gempa besar di Sesar Lembang, Bandung, Jawa Barat. Menurutnya, relokasi permukiman dan fasilitas publik lainnya di sekitar Sesar Lembang dibutuhkan untuk meminimalisasi risiko bencana.
"Ancaman gempa itu ada jadi mau tidak mau harus direlokasi, tinggal menunggu tindakan pemerintah daerah seperti apa nantinya," kata Eko dalam diskusi yang digelar di Gedung LIPI, Jakarta, Rabu (2/2).
Ia menilai berbagai bencana seperti gempa, tsunami, dan likuefaksi, yang melanda Palu-Donggala dan tsunami di Selat Sunda menelan banyak korban jiwa salah satunya dikarenakan faktor tata ruang dan wilayah yang tidak mengindahkan wilayah rawan bencana.
Karena itu, lanjutnya, wilayah Bandung yang rentan gempa bumi di Sesar Lembang, juga menuntut kesadartahuan dan kewaspadaan masyarakat yang lebih tinggi. Masyarakat perlu memahami kerawanan bencana di sekitarnya. Ia menegaskan pesan itu bukan untuk membuat kekhawatiran namun demi membangun kesadaran mengenai kerawanan bencana.
"Membangun tata ruang berbasis risiko bencana sangat penting selain peringatan dini. Ketika yang ditegakkan ialah tata ruangnya, artinya masyarakat juga punya tanggung jawab untuk tidak membangun di daerah rawan," ujar Eko yang juga menjabat Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI itu.
Eko mengungkapkan Sesar Lembang awalnya dianggap bukan sebagai sesar aktif. Namun belakangan, diketahui ternyata sesar sepanjang 29 km yang merentang dari Gunung Manglayang-Tebing Keraton-Gunung Batu itu menunjukkan aktivitas kegempaan merusak meski pada kekuatan yang tidak terlalu besar.
"Terakhir gempa Sesar Lembang pada Agustus 2011 di Kampung Muril Rahayu Kabuaten Bandung Barat. Lebih dari 300 rumah rusak retak-retak padahal kekuatannya hanya 3,3 magnitudo," tuturnya.
Bersama tim di Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, ia meneliti jejak sejarah (paleoseismologi) aktivitas Sesar Lembang memanfaatkan data sedimen tanah dengan metode uji parit. Dari hasil itu, diketahui pernah terjadi sedikitnya dua gempa besar pada sesar tersebut yakni sekitar 2.000 tahun lalu dengan kekuatan 6,8 magnitudo. Gempa besar berkekuatan 6,6 magnitudo juga pernah terjadi sekitar 500 tahun lalu.
"Pergerakan Sesar Lembang per tahunnya 2 mm hingga 3 mm. Memang lamban tapi itu akan mengakumulasi energi yang sewaktu-waktu bisa dilepaskan hingga menyebabkan gempa besar yang kita tidak tahu kapan akan terjadinya," ungkapnya.
Kerentanan wilayah Bandung terhadap potensi gempa besar juga ditambah kondisi sejarah wilayahnya yang berupa cekungan endapan dari danau purba. Itu berpeluang makin memperparah dampak yang ditimbulkan karena struktur tanah bersifat lunak.
"Yang bisa dilakukan ialah memberikan pengertian ke masyarakat bahwanwilayah itu rawan. Jika dihuni berisiko tinggi. Bukan tidak boleh ada aktivitas di sana. Sebaiknya hanya yang temporer bukan permukiman dan perlu disiapkan area buffer zone 20 meter di sekitar sesar," jelasnya. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved