PEMERINTAH Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, meminta petani segera mempercepat musim tanam gadu (kemarau) di tengah banyaknya petani yang sedang melakukan panen musim tanam rendeng (penghujan). Tujuannya agar petani bisa menghindari ancaman kekeringan.
"Kami sudah mengeluarkan imbauan agar petani secepatnya melakukan percepatan tanam gadu," kata Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu, Tamkid, kemarin.
Percepatan bisa dilakukan dengan melakukan sistem tanam culik padi. Dengan kata lain, dalam waktu sekitar seminggu sebelum panen rendeng, petani sudah harus 'menculik' sekitar 1/20 hektare lahan pertaniannya untuk persemaian. Dengan demikian, saat panen dimulai, persemaian sudah berumur satu minggu.
Petani melakukan panen sekitar seminggu dan mulai mengolah lahan yang juga berlangsung seminggu. Itu berarti saat lahan telah kembali siap untuk ditanami tanaman padi, persemaian sudah berumur tiga minggu. "Lumayan bisa menghemat waktu selama tiga minggu," ujarnya.
Menurutnya, percepatan tanam sangat diperlukan karena sebagian besar areal pertanian di Kabupaten Indramayu selama ini menggantungkan pengairan dari Bendung Rentang di Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka.
Saat musim kemarau, pasokan air dari bendung itu tidak dapat memenuhi kebutuhan pengairan secara maksimal di Kabupaten Indramayu sehingga petani harus sesegera mungkin memulai musim tanam gadu. "Mumpung sekarang masih ada hujan," kata Takmid.
Musim panen ternyata tak sepenuhnya membahagiakan petani. Sebagian besar petani di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, memilih tidak menjual gabah mereka dan menyimpannya untuk dikonsumsi sendiri. "Saat ini harga gabah kering giling Rp4.600 per kg, sementara harga beras dengan kualitas yang sama dengan beras hasil produksi kami antara Rp7.300 dan Rp7.600 per kg. Perbandingannya cukup jauh," kata Abdul Aziz, petani di Kecamatan Pademawu, Pamekasan.
Kepala Dinas Pertanian Pamekasan, Isye Windarti, mengatakan pemerintah tidak bisa memaksa petani untuk menjual gabah mereka. Sikap tersebut juga memiliki dampak positif, terutama saat terjadi krisis beras ataupun terjadi lonjakan harga.
Sementara itu, di tengah naiknya harga BBM, harga beras masih normal. Untuk beras medium masih dijual dengan harga Rp9.500 per kg, sedangkan beras premium di kisaran Rp10.500 hingga Rp12.000 per kg.
Stabilnya harga beras juga dibarengi dengan sepinya pembeli. Sudarno, pedagang beras di Pasar Bendul Mrisi, Surabaya, mengungkapkan sejak operasi pasar digelar, harga beras langsung turun. "Penjualan beras juga turun ketimbang sebulan lalu," keluhnya.
Jaringan irigasi Untuk mencapai swasembada pangan berkelanjutan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) akan membangun jaringan irigasi untuk 52.600 hektare. Pembangunan jaringan irigasi itu akan melibatkan TNI.
"Pemerintah daerah dengan dukungan TNI menargetkan pengembangan jaringan irigasi seluas 52.600 hektare untuk menunjang peningkatan produksi padi di Kalsel," kata Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kalsel, Faturahman.
Pembangunan jaringan irigasi dilakukan di 11 kabupaten sentra pertanian, dengan dana dari APBN. (MG/FL/DY/N-4)