Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BAHAYA besar sudah berlalu. Pekan ini, kendati masih berlangsung, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyatakan erupsi Gunung Anak Krakatau tidak akan menyebabkan bencana seperti pekan lalu.
"Longsoran besar tidak akan terjadi lagi sehingga potensi tsunami relatif kecil. Akibat erupsi, volume material Gunung Anak Krakatau sudah berkurang banyak, hanya tinggal 40 juta meter kubik - 70 juta meter kubik," papar Sekretaris Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Antonius Ratdomopurbo, kemarin.
Saat ini, lanjutnya, potensi bahaya yang paling memungkinkan ialah terjadinya letusan surtseyan. Letusan ini terjadi karena lahar mengenai air laut. Bahayanya relatif kecil karena aktivitas itu hanya menghasilkan suara dentuman dan abu.
Namun, mantan Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta itu tidak menampik tsunami bisa terjadi jika ada reaktivasi struktur patahan atau sesar yang ada di Selat Sunda. "Itu dapat memicu dan meningkatkan aktivitas Gunung Anak Krakatau."
Menurut Purbo, panggilan akrab pria ini, terdapat struktur sesar yang kompleks di sekitar Selat Sunda. Sesar itu memanjang dari Pulau Sumatra turun sampai di Lampung.
"Sesar lalu berbelok ke kanan ke arah selatan. Kami terus menyiagakan petugas piket untuk memantau meski saat ini terjadi penurunan keaktifan Gunung Anak Krakatau dan sisa-sisa erupsi," jelasnya.
Nyaris setiap tahun Gunung Anak Krakatau meletus. Pada 2018, erupsi mulai terjadi pada 29 Juni lalu. Puncaknya, Sabtu (22/12) malam, erupsi menyulut bencana besar berupa tsunami akibat longsoran material gunung. Sapuan gelombang tinggi tsunami melanda kawasan pantai barat Banten dan pantai selatan Lampung.
"Total korban tsunami Gunung Anak Krakatau yang sudah dievakuasi mencapai 431 orang meninggal dunia dan 7.200 luka-luka di Kabupaten Pandeglang, Serang, Lampung Selatan, Tanggamus, dan Pesawaran," tambah juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho.
Menurun
Bahaya besar sudah berlalu. Hanya Pusat Vulkanologi, Mitigasi, dan Bencana Geologi, sampai kemarin, belum menurunkan status aktivitas Gunung Anak Krakatau yang ditetapkan siaga atau level III.
"Dalam status siaga, siapa pun tidak diizinkan masuk ke radius 5 km dari bibir kawah. Yang bisa dikecualikan ialah untuk keperluan penelitian atau hal mendesak lainnya, seperti pemasangan alat sensor," tambah Purbo.
Dari Pos Pantau Gunung Anak Krakatau Pasauran, Carita, Pandeglang, kemarin, aktivitas gunung itu menurun. Muntahan lahar tidak semasif pekan lalu. Letupan di kawah pun tidak terdengar lagi.
Pakar gunung api lulusan Universitas Gadjah Mada itu juga mengungkapkan tinggi gunung menurun drastis. Jika sebelum erupsi tinggi Anak Krakatau mencapai 338 meter, saat ini hanya 110 meter.
"Tingginya tidak melebihi Pulau Setung."
Kondisi itu terjadi karena tipe letusan tahun ini bukan strombolian, yakni lahar mengalir ke puncak dan mengeras sehingga menambah tinggi gunung. Erupsi sekarang ini bertipe surtseyan, yakni lahan mengalir menjauhi dari kawan menuju laut.
"Bahaya tidak selamanya berlalu dari Gunung Anak Krakatau. Longsoran besar bisa terjadi lagi karena gunung ini memiliki karakter aktif yang sangat implusif. Kita tidak tahu kapan dapur magma Anak Krakatau akan berhenti mengeluarkan lahar," tandasnya. (J-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved