Bersedekah Tiap Jumat lewat Warung

MI/ARDI TERISTI HARDI
02/4/2015 00:00
Bersedekah Tiap Jumat lewat Warung
(MI/ARDI TERISTI HARDI )
SEBUAH warung nasi kaki lima di Jalan Gedongkuning, Bantul, tampak ramai seperti halnya warung nasi pada umumnya. Namun, warung itu cukup spesial dibandingkan warung nasi pada umumnya. Sebuah spanduk menutupi warung tersebut. Spanduk itu bertuliskan Warung Shodaqoh khusus fakir miskin dan kaum duafa, gratis.

Saat saya menyambangi Warung Shodaqoh pada Jumat (27/3), banyak orang sedang mengantre untuk mendapatkan makanan. Sugiyanto, salah satu pelanggan Warung Shodaqoh bersama rekannya sesama pengayuh becak sudah setia menunggu di deretan antrean. Mereka datang ke warung tersebut pada pukul 11.00 WIB. "Satu nasi dibungkus. Nanti saya mau makan di atas becak," kata Sugiyanto kepada pelayan Warung Shodaqoh.

Pelayan tersebut dengan cekatan membungkus nasi dilengkapi lauk ikan bandeng dan sayur sup ayam. Makanan gratis itu menjadi obat lapar bagi Sugiyanto setelah hampir setengah hari berkeliling mengayuh becak.

Bagi Sugiyanto keberadaan Warung Shodaqoh sangat membantu terlebih kondisi saat ini harga kebutuhan pokok terus naik.

Senada dengan Sugiyanto, Ali, penjual bakpao keliling, merasa diuntungkan dengan adanya Warung Shodaqoh. Warung tersebut sudah ada sejak September 2014. Menurut Yuniana Oktaviati, si empunya warung, keberadaan warung tersebut terinspirasi model sejenis di Pekalongan. "Sebelumnya saya punya keinginan untuk selalu bersedekah, tetapi belum bisa disiplin. Dengan warung ini saya bisa bersedekah dengan disiplin setiap Jumat," terang dia.

Setiap Jumat, sekitar 120-150 porsi makanan disediakan bagi fakir miskin dan kaum duafa yang datang. Menu yang disajikan selalu ada sayuran dan lauk. "Kadang pakai ayam goreng, lele goreng, atau ikan bandeng," ujarnya.

Warung Shodaqoh miliknya hanya buka setiap Jumat dari pukul 11.00 -13.00 WIB. Namun, sebelum pukul 13.00, makanan yang disajikan sudah habis.

Kegiatan Warung Shodaqoh, terang dia, ternyata banyak peminatnya. Sudah banyak orang yang menghubunginya untuk menyatakan kesediaannya membantu dan membuka warung sejenis di kota masing-masing.

Selain di depan rumahnya , Jalan Gedongkuning, pengusaha batu alam itu akan membuka warung serupa di titik nol kilometer Yogyakarta. Titik nol kilometer dipilih karena banyak orang kurang mampu yang mencari penghasilan di wilayah tersebut.

"Kalau warung di sini dibiayai dari dana saya sendiri, warung yang di titik nol kilometer nantinya berasal dari para penyumbang. Pemisahan itu harus dilakukan agar ada pertanggungjawaban kepada para donatur." (N-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya