Polisi masih Dalami Kasus Keributan Bupati TTU dengan Warga

Micom
23/12/2018 07:20
Polisi masih Dalami Kasus Keributan Bupati TTU dengan Warga
(Ilustrasi/MI)

KETUA Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur, Frengky Saunoah, menyesalkan dugaan penganiayaan yang dilakukan Bupati TTU, Raymundus Sau Fernandes. Kasusnya terjadi di Desa Ponu, Kecamatan Biboki Anleu, NTT.

"Jika dugaan penganiayaan itu benar, hal itu sungguh disayangkan. Saya baru lihat kasusnya dari video yang beredar di media sosial," kata Frengky dalam keterangannya, Sabtu (22/12).

Menurut Frengky, kasus penganiayaan seperti itu seharusnya tidak terjadi. Karena tugas seorang pemimpin sejatinya ialah mengayomi warganya. Jika terjadi kekeliruan, upaya yang dilakukan bisa dengan cara yang lebih persuasif lewat bimbingan dan pembinaan.

"Sudah bukan zamannya lagi, kekeliruan dibalas dengan kekerasan. Apalagi era media sosial saat ini, segala macam tindakan bisa langsung tersebar luas di masyarakat," tuturnya.

Frengky menambahkan, pihaknya akan segera kembali ke TTU untuk mendiskusikan masalah ini.

"Kita akan telusuri kebenaran informasi ini. Jika benar, akan akan gelar rapat internal DPRD guna memutuskan sikap kami selanjutnya," katanya.

Dalam kesempatan terpisah, Kapolres TTU, AKBP Rishian Krisna Budhiaswanto, membenarkan adanya laporan dugaan tindakan pengeroyokan oleh Bupati TTU dari warga.

"Laporannya sudah ada. Sementara ini masih dalam tahap pemeriksaan penyelidikan. Kami belum bisa simpulkan, tapi yang jelas ini masih dalam proses," katanya.

Namun, lanjut Krisna, pelaporan serupa juga dilakukan Bupati TTU terkait tindakan pengadangan yang dilakukan pihak tertentu.

"Dua-duanya melaporkan. Dari pihak bupati terkait penghadangan, sedangkan laporan warga adanya dugaan penganiayaan," ujarnya.

Sementara itu, Yoakim Ulu Besi, warga Desa Ponu, Kecamatan Biboki Anleu, TTU, korban penganiayaan yang dilakukan Bupati Raymundus saat ini tengah dirawat di rumah sakit. Ia maupun keluarganya enggan berkomentar lebih jauh.

Seperti diberitakan sebelumnya, terjadi bentrokan antara Bupati TTU dan warga di Desa Ponu. Hal ini dipicu kedatangan Bupati bersama rombongan Pemda TTU guna melihat lahan yang akan dijadikan tambak garam. Warga pemilik lahan agak marah karena rencana itu dilakukan tanpa sosialisasi atau pemberitahuan.

Warga kemudian secara spontan mengadang rombongan bupati. Mereka hendak mempertanyakan kehadiran bupati di lahan persawahan mereka. Terlihat bupati langsung membentak Yoakim Ulu Besi. Situasi kemudian memanas karena ajudan bupati menendang dan membanting korban hingga terjatuh, lalu dicekik oleh Kadis Perikanan dan Kelautan, TTU.

Atas kejadian itu, korban bersama warga lainnya melapor ke Polsek setempat. Namun sebelum korban melapor, Bupati TUU sudah terlebih dahulu melapor ke polisi dengan alasan menghalangi tugas pemerintah.

Oleh karena itu, merasa tak puas maka warga bersama korban penganiayaan bertahan di Polsek Biboki Anleu karena merasa tak puas dengan sikap kepolisian TTU. Masyarakat Biboki mendesak Polisi segera memproses hukum pelaku penganiayaan tersebut tanpa melihat embel-embel jabatannya.

Masyarakat juga mendesak Komnas HAM dan LSM peduli kemanusiaan memberi perhatian serius terhadap kasus ini. Selain itu masyarakat Biboki juga meminta pemilik lahan untuk terus mempertahankan hak mereka yang ingin lahannya dicaplok. (RO/OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya