GKR Hemas: Orang Sudah Meninggal kok Masih Dikotak-kotakkan

Ardi Teristi Hardi
21/12/2018 15:25
GKR Hemas: Orang Sudah Meninggal kok Masih Dikotak-kotakkan
(MI/Ardi Teristi Hardi)

ANGGOTA DPD RI, GKR Hemas, meminta Pemda DIY agar memberikan perlindungan kepada seluruh warganya. Hal tersebut terkait berita pemotongan tanda salib di kuburan  warga beragama Katolik, Albertus Slamet Sugiardi di Kelurahan Purbayan, Kotagede, Yogyakarta.

"Pemerintah daerah harus memberikan perlindungan kepada seluruh warga masyarakatnya," kata GKR Hemas di Kantor DPD RI, Jumat (21/12).

Permaisuri Sultan Yogyakarta tersebut mengatakan, kampung tidak bisa membuat aturan sendiri seperti itu. Aturan kampung itu, kata GKR Hemas, guyub-rukun untuk siapapun, agama apapun, dan ras apapun.

"Istilahnya, orang sudah meninggal kok masih dikotak-kotakkan," kata GKR Hemas.

 

Baca juga: Sultan Sesalkan Tindakan Warga Purbayan

 

Sebelumnya, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X berpendapat, pemotongan nisan tersebut dilakukan warga agar praktis. 

"Ini pembelajaran bagi kita semua, agama dan simbol-simbol keagamaan dijamin dalam konstitusi," kata Sultan, Kamis (20/12).

Menurut Sultan, pemotongan salib tersebut mungkin mencari praktisnya saja sebagai bentuk kompromi. Dari dialog dengan berbagai pihak, disimpulkan ada beberapa faktor pemicu yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya. Berita yang mencuat tidak diperkirakan oleh warga. 

Viralnya peristiwa pemotongan salib menimbulkan prasangka dan menumbuhkan isu-isu kurang pas.

Sultan juga telah meminta, para pembina wilayah bergerak secara aktif untuk menyelesaikan masalah di lapangan. Mereka agar selalu menjunjung tinggi dan menjaga kerukunan warganya. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dwi Tupani
Berita Lainnya