Sultan Sesalkan Tindakan Warga Purbayan

Agus Utantoro
21/12/2018 02:45
Sultan Sesalkan Tindakan Warga Purbayan
(ANTARA/Regina Safri)

PEMOTONGAN salib nisan di makam Albertus Slamet seha­rusnya tidak terjadi. Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta warga Yogyakarta tetap menjaga kerukunan, keamanan, dan kenyamanan bersama.

Sri Sultan lebih lanjut meng­ajak warga Yogyakarta memegang tiga prinsip kehidupan bermasyarakat, yakni ngono yo ngono ning ojo ngono, sithik edhing, lan tepa slira. “Dalam kesempatan ini saya juga meminta seluruh warga untuk tetap menjaga kerukunan demi keamanan dan kenyamanan bersama. Saya minta kepada seluruh warga untuk berpegang pada tiga hal secara kultural,” kata Sultan di Yogyakarta, kemarin, menanggapi viralnya peristiwa di makam Purbayan yang dinilai tidak toleran tersebut.

Dalam konteks kasus Purbayan di Kotagede ini, Sultan menilai warga sudah menerapkan pesan kultural kedua, yaitu sithik edhing. Hal itu terlihat masyarakat menerima dengan sukarela pemakaman warga yang beragama lain dengan ikut serta melayat, menyiapkan sarana prasana permakaman, dan mengantar ke permakaman tanpa membedakan asal-usul budaya maupun agama.

Warga, kata Sultan, juga memiliki tepo seliro. Ini ditunjukkan dengan kerukunan baik saat pemakaman hingga munculnya kejadian ini. Masyarakat Purbayan dinilai mampu menjaga kedamaian sehingga insiden ini tidak meluas.

“Tapi, saya sangat menya­yangkan tindakan warga yang dibuat dengan waktu terbatas. Warga Purbayan tidak menyadari tindakan mereka mengarah ke intoleransi,” ujar Sultan. Hal ini tidak sesuai dengan prinsip ngono yo ngono, ning ojo ngono.

Apa yang dilakukan warga Purbayan dengan memotong salib nisan makam dianggap tidak pas dan bahkan tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Kesepakatan ini, ucap Sultan, ditempuh warga sebagai upaya kepraktisan saja tanpa pernah melibatkan para pembina wilayah seperti lurah maupun camat.

Intimidasi
Peneliti Setara Institute Hali­li Hasan dalam diskusi terbatas bertema Memperkuat toleransi dan keberagaman di Kabupaten Sleman mengatakan kasus Kotagede menjadi pertanda meningkatnya intoleransi di DI Yogyakarta.

“Apa yang terjadi menggambarkan masyarakat yang konservatisme mengalami ketakutan dan terancam pada simbol-simbol keagamaan dan menggambarkan betapa masyarakat lemah dalam literasi keagamaan,” kata Halili.

Kasus Kotagede, jelasnya, juga menunjukkan bahwa saat penguatan logika mayoritas sedang bekerja dengan cara penundukan kelompok minoritas atas nama kerukunan. Halili melihat surat kesepakatan yang ditandatangani keluarga almarhum Slamet isinya memang jelas, tapi itu pemaksaan.

Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, memastikan tidak pernah ada intimidasi terhadap keluarga almarhum Albertus Slamet. Hal itu disampaikan sebagai bantahan atas tuduhan yang disampaikan Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan Kevikepan DI Yogyakarta pada Rabu (19/12).

Dalam rilisnya, Ketua KKPKC Kevikepan DI Yogyakarta Ag Sumaryoto menjelaskan penelu­suran di lapangan ditemukan tindakan intoleransi kepada keluarga korban bukan peristiwa tunggal. Tercatat ada dua kekerasan lain sebelum kejadian pemotongan salib makam dan mengarah pada kekerasan fisik. (N-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya