Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SETELAH 17 tahun diperjuangkan, akhirnya hak asasi petani (HAP) yang diinisiasi petani Indonesia dideklarasikan PBB di Sidang Majelis Umum, Senin (17/12) waktu New York, AS.
Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI), Henry Saragih, menyebutkan Deklarasi HAP PBB kini menjadi instrumen hukum dan hak asasi legal di seluruh dunia.
"Deklarasi ini mengatur hak atas tanah, benih, air, keanekaragaman hayati, pengutamaan hak petani perempuan, dan kaum muda, serta hak mendasar petani di seluruh dunia," kata Henry di Kantor Sekretariat DPP SPI, Jakarta, kemarin.
Tugas SPI selanjutnya, lanjut Henry, ialah meneruskan deklarasi tersebut kepada parlemen dan pemerintah agar meratifikasi dan menjadikannya acuan dalam pembuatan kebijakan.
Henry memberikan gambaran Indonesia kerap digugat AS dan Selandia Baru karena membatasi impor hortikultura. Deklarasi HAP itu dapat menjadi tameng impor pangan yang tidak terlalu dibutuhkan di Tanah Air.
Menurut Henry, sedianya pembatasan itu bertujuan menyelamatkan petani lokal. Namun, karena harus tunduk pada aturan WTO, pemerintah terpaksa mereduksi kebijakan yang ada sehingga produk hortikultura negara lain bisa membanjiri pasar Indonesia.
"Ke depan, kita tidak perlu mngalah karena petani telah memiliki hak asasi sendiri. Kalau memang kita tidak perlu mengimpor sebuah produk karena bisa mengandalkan hasil lokal, ya kita tidak perlu impor," ujar Henry.
Oleh karena itu, SPI meminta negara-negara pendukung lain, terutama di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, melakukan hal serupa sehingga bisa diimplementasikan dan dimonitor melalui mekanisme yang ada di level nasional, regional, hingga internasional.
Ketua Departemen Luar Negeri SPI Zainal Arifin Fuad menambahkan, dalam voting terakhir di Sidang Majelis Umum PBB, dari total 183 negara, sebanyak 121 suara mendukung Deklarasi HAP, 54 abstain, dan 8 negara menentang, yakni Australia, Hongaria, Israel, Selandia Baru, Swedia, Inggris, Guatemala, dan AS.
"Ini kemenangan kaum tani seluruh dunia. Walaupun embrionya dari kampung-kampung petani SPI, bisa mengglobal berkat dukungan dari gerakan sosial, khususnya La Via Campesina (Gerakan Petani Internasional)," tandas Zainal yang juga anggota Komite Koordinator Internasional La Via Campesina. (Pra/X-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved