Slamet Dimakamkan tanpa Simbol Salib

(FU/N-2)
19/12/2018 02:45
Slamet Dimakamkan tanpa Simbol Salib
(MI/Furqon Ulya Himawan)

PEMAKAMAN jenazah Albertus Slamet Sugihardi, warga beragama Kristen yang tinggal di Purbayan, Kotagede, Yogyakarta, terpaksa tidak menggunakan prosesi doa di makam. Termasuk tidak terlaksananya penancapan simbol salib di makam karena mendapatkan penolakan dari warga sekitar.

Soleh Rahmad Hidayat, 38, Ketua RT 53, membenarkan hal itu. Menurutnya, penolakan itu disebabkan mayoritas warga di situ beragama Islam, serta untuk menghindari konflik. “99% warga di sini muslim. Jadi sudah menjadi aturan biar tidak menimbulkan konflik,” kata Soleh kepada wartawan di rumahnya.

Selain melarang melakukan doa di permakaman, Soleh menyatakan hasil keputusan warga kampung dan sesepuh kampung, menyepakati tidak boleh menggunakan simbol salib saat pemakaman, termasuk  tidak boleh menancapkannya di atas makam.

Makanya, ketika pemakaman jenazah Slamet pada Senin (17/12), simbol salib dipotong bagian atasnya agar tidak menyerupai simbol salib. “Yang memotong salib warga kampung karena memang tidak boleh ada atribut salib. Pemotongan saat itu juga,” tambahnya.

Sebetulnya lokasi permakaman­ jenazah Slamet ini masih di TPU Purbayan. Namun, menurut Soleh, sudah ada kesepakatan dengan pihak keluarga tidak memperbolehkan adanya doa saat di makam dan penancapan salib di atas makam. “Ke-sepakatannya tidak tertulis. Setelah itu baru tertulis,” lanjut Soleh.

Dalam kesepakatan itu, tertulis di bagian bawah tertanggal 18 Desember. Dan yang bertanda tangan ialah istri Slamet, Maria Sutris Winarni dengan dibubuhi materai 6.000. Sementara itu, di bawahnya tanda tangan Ketua RT 53 Soleh Rahmad Hidayah, Ketua RW 13 Slamet Riyadi, dan tokoh masyarakat Bedjo Mulyono.

Pada kesempatan itu, Bedjo menjelaskan bahwa makam tersebut nantinya akan menjadi makam muslim walau belum resmi. Malam harinya keluarga Slamet batal menggelar doa arwah karena ditolak warga sekitar.

Pengurus Gereja Santo Paulus Pringgolayan, Bantul, Agustinus Sunarto, kecewa dengan kejadian itu. Doa arwah dipindahkan ke gereja. Sekjen Forum Persaudaraan Umat Beriman, Timotius Apriyanto, menilai masyarakat DIY belum memahami makna toleransi. (FU/N-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya