Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DENGAN gaya khas, sejumlah anak berusia sekitar 7-8 tahun menyajikan gerakan tari tradisional yang lucu. Sementara itu, anak-anak berusia sekitar 12 tahun memainkan alat-alat permainan tradisional, sedangkan sejumlah anak lainnya memperagakkan bantengan, sambil berlarian menuju ke mata air Sumber Gentong. Pada hari itu anak-anak ramai memenuhi pemandian Sumber Gentong.
Itulah gambaran keceriaan puluhan anak dalam sekolah alam konservasi dan pelestarian hutan serta kebudayaan lereng Tengger, saat peringatan Hari Anak Sedunia di mata air Sumber Gentong, Desa Andonosari, Kecamatan Nongkojajar (Tutur), Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Minggu (16/12).
Berbagai jenis kesenian diperagakan puluhan anak, di hadapan ratusan warga yang datang memenuhi lokasi mata air Sumber Gentong, sekaligus berniat menggelar selamatan sumber air itu.
Puluhan anak tersebut tampak akrab dengan kondisi lingkungan di sekitarnya. Meski banyak warga yang datang untuk mengikuti gelaran selamatan sumber air, mereka tetap ceria dan tidak canggung untuk terus bermain dan terus menyatu dengan alam sekitarnya.
“Ini pusat pendidikan atau sekolah alam untuk konservasi alam dan kebudayaan lereng Tengger. Sudah berjalan dua tahun ini.
Tujuannya untuk memberikan pendidikan dalam melakukan konservasi alam sekaligus budaya dan perilaku masyarakat Tengger yang terkenal bijaksana serta santun,” kata Ketua Yayasan Alit, Yuliati Umroh.
Sekolah alam di mata air Sumber Gentong Desa Andonosari Nongkojajar tersebut merupakan satu dari tiga lokasi sekolah alam yang digagas para aktivis Yayasan Alit bersama masyarakat Tengger, yakni Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Mugo Joyo Desa Andonosari. Dua lokasi lainnya berada di Dusun Ketuwon, Dersa Ngadiwono, Kecamatan Tosari, dan Dusun Pandansari, Desa Kandangan, Kecamatan Nongkojajar.
“Sekolah alam di Dusun Ketuwon, Desa Ngadiwono, satu-satunya sekolah di situ. Lokasinya terpencil dan jarak sekolah negeri, lebih dari 7 kilometer. Makanya, di situ diberikan materi literasi pendidikan. Sebanyak 40 anak di Ketuwon tidak bisa mengikuti pelajaran di sekolah negeri, karena lokasinya yang terpencil dengan medan sulit sehingga perjalanannya butuh waktu lama,” imbuh Yuliati.
Di sekolah alam, para siswa diberi pelajaran tentang pentingnya merawat hutan yang dimilikinya. Sejak usia masih kecil, anak-anak diajar untuk menanam dan merawat pohon sehingga kerusakan alam atau hutan bisa dicegah dan diperbaiki.
Sementara itu, aktivis lingkungan dari LMDH Mugo Joyo Desa Andonosari, Anto Suminto, menyampaikan bahwa sekolah alam yang digagas bersama Yayasan Alit ini merupakan investasi alam untuk kehidupan. Investasi itu untuk jangka panjang. (Abdus Syukur/N-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved