Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH Provinsi Jawa Tengah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus melakukan kegiatan pengurangan risiko bencana Merapi di kawasan Tlogolele, Kecamatan Selo, Boyolali, dengan memasang lima unit kamera pemantau jarak jauh atau CCTV pada Senin (17/12).
"Baru kemarin (Senin, 17/12), Pemprov Jawa Tengah melakukan pemasangan lima unit CCTV di kawasan Tlogolele, sebagai upaya mengetahui pergerakan aktivitas Merapi yang saat ini masih dalam status Waspada," tegas Kepala BPBD Boyolali, Bambang Sinung, kepada Media Indonesia, Selasa (18/12) petang, di Boyolali.
Dia memaparkan, seiring munculnya lava pijar dari puncak Merapi yang terpantau dari Pos Induk Balerante Klaten dua hari lalu, maka pemasangan CCTV di kawasan Tlogolele sebagai upaya pemantauan dari segi visual agar bisa diketahui kondisi terkini puncak Gunung Merapi.
Lebih jauh dituturkan Bambang, meski Merapi masih belum menunjukkan aktivitas lagi, semua elemen terus diminta waspada. Salah satu persiapan yang sudah dilakukan yakni mempertemukan warga desa terdampak dengan warga desa penyangga.
Yang jelas, lanjut dia, BPBD Boyolali mengimbau kepada warga yang tinggal di lereng Merapi, terutama Kawasan Rawan Bencana (KRB) III untuk tidak lengah, meski mereka selama ini memiliki kearifan lokal di dalam melihat tanda-tanda aktivitas Merapi.
"Seperti warga Dukuh Stabelan yang jaraknya terdekat dengan puncak Merapi, tetap kita minta kewaspadaannya. Mereka memang masih melakukan aktivitas pertanian, namun mereka cepat bergerak ke bawah jika melihat tanda-tanda yang mereka yakini benar terkait aktivitas Merapi," imbuh Bambang.
Di dalam upaya mengurangi risiko bencana Merapi, BPBD Boyolali beberapa waktu lalu menggelar kemah jambore relawan, sebagai kesiapan di dalam mengantisipasi bencana yang muncul. Harapannya, terjadi zero korban dalam setiap bencana apa pun yang terjadi di Boyolali.
"Melalui gerakan mitigasi yang tidak pernah lelah, desa desa terus diarahkan menjadi desa tanggap bencana (Destana) yang tangguh. Masyarakat kini menjadi lebih siap, di dalam upaya mengurangi risiko bencana, dengan berbagai pelatihan," pungkasnya. (OL-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved