Ego Sektoral di Festival Danau Toba

(Yoseph Pancawan/N-2)
18/12/2018 01:00
Ego Sektoral di Festival Danau Toba
(MI/Yoseph Pencawan )

WISATA alam Danau Toba di Sumatra Utara sudah terkenal keindahannya. Lokasinya pun hanya 89 kilometer (km) dari Kota Medan. Bahkan, akses ke Danau Toba pun sudah dipermudah dengan adanya Bandara Silangit di Siborong-borong, Tapanuli Utara. Bahkan, Danau Toba sudah diusulkan masuk sebagai cagar budaya dunia di bawah UNESCO.

Banyaknya rencana yang ditargetkan pemerintah untuk memajukan destinasi wisata Dana Toba ini tidak semudah yang dibayangkan.

Dalam Forum Jurnalis Pariwisata yang digelar di Medan pekan lalu, diangkat tema Menggali narasi Toba.

Pemerhati pariwisata, Bersinar Lubis, mengungkapkan bagaimana sepinya Festival Danau Toba (FDT) yang digelar pada 5-8 Desember lalu di Kecamatan Silahisabungan, Kabupaten Dairi, Sumatra Utara. “Padahal, miliaran uang dikucurkan untuk menyukseskan FDT. Wisatawan yang datang sedikit. Pedagang merugi, bahkan untuk ongkos makan selama empat hari tidak cukup,” ujarnya.

Bersinar menambahkan, tahun sebelumnya FDT yang digelar di Kecamatan Sipinsur, Kabupaten Humbang Hasundutan, juga  sepi pengunjung.  “Ini perlu dievaluasi. Pelaksanaannya tidak harus pemerintah kabupaten secara bergiliran. Ini akan menjadi beban pemkab. Sebaiknya birokrat minggir saja mengurus FDT. Serahkan ke swasta saja,” usulnya.

Swasta lebih profesional menangani event. Padahal, di Dairi,setiap tahunnya digelar pesta tugu Marga Raja Silalahi. Acara tersebut justru ramai didatangi wisatawan jika dibandingkan dengan FDT.

 Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Dairi, Leonardus Sihotang, mengaku sudah melakukan persiapan kegiatan itu jauh sebelumnya. Namun, perhelatan yang ditangani Pemprov Sumatra Utara itu dianggap kurang persiapan. Kegiatan FDT ini melibatkan Kementerian Pariwisata, Pemprov Sumatra Utara, dan Pemkab Dairi selaku tuan rumah. “Kenyataannya tidak ada persiapan. Tidak ada koordinasi, tidak ada perencanaan. Kami posisinya sebagai apa? Kalau memang selaku tuan rumah, kami menyiapkan konsep.

Seharusnya dipercayakan kepada kami. Yang diikuti adalah konsep kami. Sampai sekarang pertanyaan itu tidak terjawab,” terangnya.

Antropolog dari Universitas Sumatra Utara, Fikarwin Zuska, menyebutkan kejadian FDT ini merupakan bentuk ego sektoral. “Pengembangan Danau Toba  memerlukan wacana bersama,” ujarnya.  (Yoseph Pancawan/N-2)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya