Detektor Puting Beliung Itu Buatan Unej

(Ant/AB/X-6)
17/12/2018 11:45
Detektor Puting Beliung Itu Buatan Unej
(Ist)

BENCANA angin puting beliung merupakan salah satu bencana yang kerap membawa mala­petaka di musim penghujan.

Namun, kerap masyarakat tidak mengetahui kapan bencana itu akan datang. Yang sering  terjadi, bencana itu dirasakan secara tiba-tiba menerpa suatu kawasan sehingga masyarakat dibuat kalang kabut.

Untuk menghindari keadaan semacam itu, Universitas Jember (Unej) menciptakan alat pendeteksi puting beliung.

Alat itu dimaksudkan untuk mengantisipasi datangnya a­ngin puting beliung hingga tanah longsor.
Alat tersebut diciptakan empat peneliti dari Fakultas Teknik Unej, di antaranya Januar Fery Irawan, Satrio Budi Utomo, FX Kristianta, dan Ike Fibriani.

Ketua tim Januar Fery Irawan memaparkan detektor angin puting beliung tersebut bekerja dengan mengukur kecepatan a­ngin yang datang di suatu daerah. Jika kecepatan angin mencapai 35 km per jam, otomatis sirine akan berbunyi.

Sejumlah tempat menjadi wilayah uji coba dan dipasangi alat deteksi dini puting beliung. “Detektor angin puting beliung dipasang di Desa Karangrejo, Kecamatan Sumbersari sebanyak 2 buah dan 1 alat di Desa Pakusari, Kecamatan Pakusari. Untuk detektor tanah longsor dipasang di Desa Suci,
Kecamatan Panti, dan di Desa Pace, Kecamatan Silo,” kata Ketua Tim pembuat alat detektor Januar Fery Irawan di Kabupaten Jember, akhir pekan lalu.

Detektor angin puting beliung bekerja dengan cara mengukur kecepatan angin yang datang. Untuk itu animometer analog dipasang dengan fungsi mengukur kecepatan angin.  

“Sirene akan berbunyi selama kurang lebih 10 hingga 15 menit guna memperingatkan warga sekitar sehingga memiliki waktu untuk menyelamatkan diri.”

Untuk diketahui, kata dia, pro­ses terbentuknya angin puting beliung atau angin ribut didahului terlebih dahulu oleh angin yang kecepatannya bertambah secara bertahap.

Peneliti lainnya, Satrio Budi Utomo, mengatakan detektor longsor bekerja dengan cara hampir mirip dengan detektor angin puting beliung. Bedanya, sensor ditanam di tanah sehingga bisa mendeteksi gerakan tanah yang terjadi.

“Sensor yang kami tanam mampu mendeteksi gerakan tanah hingga pergeseran 5 milimeter. Jika terjadi gerakan tanah selama 1 menit, sensor akan memerintahkan sirene untuk berbunyi sehingga masih ada waktu bagi warga untuk menyelamatkan diri,” kata Satrio.

Ia mengatakan pemasangan detektor tanah longsor di Desa Suci, Kecamatan Panti dan Desa Pace, Kecamatan Silo, karena kedua daerah tersebut termasuk dae­rah yang rawan bencana tanah longsor.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya