Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
INDONESIA memiliki beragam bahasa daerah. Ada sekitar 709 bahasa daerah tersebar dari Sabang sampai Merauke. Meskipun cukup banyak bahasa daerah, ada sekitar 139 bahasa daerah kini di ambang kepunahan. Sejumlah mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pun menggagas pencegahan punahnya bahasa daerah di Indonesia. Tiga mahasiswa Departemen Teknik Informatika ITS Surabaya merancang aplikasi bernama Akunusa. Ketiga mahasiswa itu ialah Cornelia Natasha, John Harison, dan Ivander William.
“Kami prihatin dengan bahasa-bahasa daerah yang menjadi bagian budaya tak terpisahkan dari bangsa Indonesia mulai punah. Makanya kami membuat aplikasi Akunusa ini untuk mengajak masyarakat ikut melestarikan bahasa daerah di Nusantara ini,” ujar Ivander, salah satu anggota tim, Kamis (29/11).
Menurut ketiga mahasiswa itu, arus globalisasi dan kemajuan teknologi informasi justru mulai memudarkan bahasa daerah dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Masyarakat cenderung larut dalam era media sosial dengan penggunaan bahasa yang dianggap gaul dan melupakan bahasa daerah.
Agar bahasa-bahasa daerah tidak tergerus dan punah, ketiga mahasiswa ITS tersebut berupaya mencari cara, menjadikan kemajuan teknologi dan pesatnya arus informasi di era milenial menjadi penyelamat bahasa daerah dari kepunahan. Hingga akhirnya mereka menemukan aplikasi inovatif yang sederhana bernama Akunusa.
“Aplikasinya sederhana, dapat digunakan di ponsel pintar dan ada pilihan bahasa daerah dari berbagai pulau di Indonesia. Dalam setiap pilihan bahasa ada materi dan ujian untuk menunjang pembelajaran, yang terdiri atas tiga tingkatan. Jika berhasil di tingkat awal dengan nilai 60, bisa lanjut ke tingkat lebih tinggi,” imbuh Ivan.
Selain bahasa, aplikasi Akunusa juga dilengkapi fitur makanan khas dan tempat wisata daerah guna meningkatkan ketertarikan pengguna dalam menggunakan aplikasi tersebut.
“Generasi muda kini lebih suka yang praktis. Aplikasi ini akan mempermudah mereka mempelajari bahasa sekaligus budaya daerah dalam satu tempat. Ini akan membuat semuanya tertarik dan masyarakat bisa lebih sadar untuk menghidupkan bahasa daerah yang jadi identitas mereka,” ucap John Horison, anggota tim lainnya.
Untuk pengembangan selanjutnya, ketiga mahasisawa itu ingin mencoba mengaplikasikan fitur dan teknologi terbaru. Misalnya dengan pemakaian suara.
“Pemakaian suara dalam aplikasi ini penting, terutama untuk membedakan dialek yang berbeda. Seperti bahasa Jawa, dialek yang digunakan masyarakat Surabaya berbeda dengan masyarakat Solo dengan intonasi lebih mendayu,” pungkas John. (Abdus Syukur/N-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved