Cetak Sawah tidak Efektif Perluas Lahan

(Pra/E-3)
05/12/2018 06:00
Cetak Sawah tidak Efektif Perluas Lahan
(MI/John Lewar)

KEMENTERIAN Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) menyampaikan tiap tahun area persawahan diprediksikan terus berkurang. Karena itu, untuk mencegah pengurangan lahan tidak bisa dilakukan dengan hanya menjalankan program cetak sawah semata.

“Ini saja dari hasil terbaru 2018, (luas sawah menurut Badan Pusat Statistik/BPS) yakni 7,1 juta hektare (ha) berdasarkan citra satelit. Ke depannya diprediksi berkurang lagi sampai 20%,” ujar Kasubdit Pemantauan dan Evaluasi Tanah Pertanian Kementerian ATR/BPN Vevin S Ardiwijaya di Jakarta, Selasa (4/12).

Menurut dia, pengurangan yang cukup signifikan itu karena dari hasil verifikasi langsung ke lapangan ditemukan banyak lahan sawah yang sudah memiliki izin alih fungsi. Ada yang berubah menjadi mal dan menjadi bangunan lain. “Ke depan, ­Kementerian ATR/BPN fokus ­menggarap rancang­an peraturan presiden untuk mempersulit alih fungsi lahan,” kata dia.

Selain itu, untuk bisa efektif berproduksi, cetak sawah memerlukan waktu sangat lama. Lahan sawah baru diperkirakan mulai berfungsi dalam jangka waktu 5-10 tahun ke depan. “Jadi, tidak bisa buka sawah terus langsung produksi 2-3 kali setahun,” imbuhnya.

Kepala BPS Suhariyanto menegaskan pihaknya akan berpegang teguh pada data luas baku sawah terbaru yang diperoleh melalui skema kerangka sampel area (KSA). Dari data terbaru melalui metode KSA terungkap luas baku sawah di Indonesia hanya 7,1 juta ha, jauh di bawah klaim Kementan yang mencapai 8,1 juta ha.

Ia pun mempersilakan Kementerian Pertanian jika ingin menghitung luas sawah secara mandiri. Namun, hasil dari institusi itu tidak akan digunakan sebagai acuan.

“Kami tetep mengacu pada data yang berkekuatan ­hukum, yang dihimpun Kementerian ATR, Lapan (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) dan BIG (Badan Informasi Geospasial),” ujarnya.

Sebelumnya, Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan Pending Dadih Permana menyampaikan pihaknya mencatat selama empat tahun terakhir telah mencetak 215.811 lahan baru. Program itu berjalan sejak 2015 yang menghasilkan 20.070 ha, kemudian 2016 mencetak 129.096 ha lahan sawah baru, dan pada 2017 seluas 60.243 ha. (Pra/E-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya