Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
JUMLAH penduduk miskin di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur (Jatim), turun 0,47% dari 2016, yakni dari angka 14,89% menjadi 14,42% di 2017. Sementara untuk Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) juga dari angka 3,5% di 2016 menjadi 4,12% di 2017.
Hal tersebut disampaikan Bupati Lamongan, Fadeli, saat mengumpulkan seluruh Kepala organisasi perangkat daerah (OPD) dan Camat dalam satu sesi focus group discussion (FGD) membahas program kemiskinan di Pemkab Lamongan, Selasa (4/12) siang.
Menurut Bupati, penurunan kemiskinan di Kabupaten Lamongan sangatlah alot, bahkan angka pengangguran sempat meningkat. Presentase jumlah penduduk miskin di Kabupaten Lamongan hanya turun 0,47% dari 2016. Yakni dari angka 14,89% menjadi 14,42% di 2017.
Sementara untuk Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dari angka 3,5% di 2016 meningkat menjadi 4,12% di 2017.
"Meskipun dari data terakhir TPT, ada penurunan menjadi 3,17%,% ungkap Fadeli.
Fadeli mengungkapkan, program untuk mengurangi kemiskinan tidak hanya dari APBD Lamongan saja, tetapi juga banyak program dari APBD Provinsi Jawa Timur dan APBN.
"Bagaimana bisa dengan banyaknya program dari APBD Lamongan, APBD Provinsi Jawa Timur dan APBN," tambahnya.
Fadeli mengatakan, presentase penduduk miskin hanya turun 0,47%. Dengan kenyataan tersebut, Pemkab berupaya keras mencari slusi atas permasalahan tersebut.
"Oleh karena itu di sini kita diskusikan apa yang sebenarnya terjadi. Kita bedah dan menyamakan persepsi tentang kemiskinan," terangnya.
Baca juga: Korban Tenggelam di Sungai Citarum Ditemukan
Fadeli juga berharap melalui focus group discussion (FGD) tersebut bisa didesain program-program untuk pengentasan kemiskinan dan mengurangi pengangguran yang lebih tepat sasaran.
Dalam FGD juga menghadirkan Departemen Sosiologi FISIP Universitas Airlangga, Bagong Suyanto dan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur, Teguh Pramono. Hal tersebut dilakukannya untuk menyatukan komitmen pengentasan kemiskinan dan penurunan jumlah pengangguran.
Menurut Teguh Pramono, garis kemiskinan Propinsi Jawa Timur saat ini berada pada Rp 373.574. Angka ini berarrti, seseorang dikatakan miskin saat pengeluaraannya berada di bawah Rp 373.574 per bulan.
Angka kemiskinan di Lamongan seperti disampaikan Teguh masih berada di zona kuning. Sementara di Jawa Timur terdapat beberapa kabupaten yang angka kemiskinannya dalam zona merah, salah satunya tetangga Lamongan.
Menurut Bagong, jika didasarkan pada aksioma ekonomi, saat pertumbuhan ekonomi meningkat, seharusnya kemiskinan turun dan akan menurunkan angka pengangguran.Bagong mengungkapkan sejumlah hipotesisnya, mengapa hal tersebut tidak berlaku di Kabupaten Lamongan.
Dijelaskannya, bisa saja sejumlah sumber pertumbuhan ekonomi yang tumbuh hanya dikuasai pihak tertentu dan tidak sampai kalangan bawah. Sementara hipotesis kedua, bisa jadi ada unsur politik yang berperan. Hal itu membuat program kemiskinan tidak tepat sasaran, karena hanya mengandalkan program populis.
Dia merujuk program populis itu seperti Kartu Indonesia Sehat dan Kartu Indonesia Pintar serta penggratisan tol Suramadu.
"Digratiskannya tol Suramadu bukannya mempercepat pertumbuhan ekonomi di Madura, namun sebaliknya. Masyarakat Madura sekarang lebih sering belanja ke Surabaya, sehingga perputaran uang tidak terjadi di Madura, tapi malah tersedot ke Surabaya," paparnya.
Ia juga menyarankan untuk membantu warga miskin dengan program pemberdayaan, di bidang yang biasa digeluti sehingga, warga miskin yang tidak berdaya, tidak perlu bersaing dengan pemilik modal. (OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved