Serap Karet Rakyat, BBPJN Wilayah V Gunakan Aspal Karet

Dwi Apriyani
30/11/2018 15:40
Serap Karet Rakyat, BBPJN Wilayah V Gunakan Aspal Karet
(ANTARA FOTO/FB Anggoro)

INTRUKSI Presiden RI untuk Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat beli hasil karet rakyat untuk bahan aspal tidak hanya sebatas wacana. 

Dalam konferensi pers, Jumat (30/11), Kepala Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) Wilayah V, Kiagus Syaiful Anwar, mengklaim pihanya sudah menjalankan intruksi tersebut, dan sudah melakukan pelelangan untuk pengadaan aspal yang akan digunakan pada tahun depan.

"Kami adakan pengadaan aspal dari karet berjenis brown crepe dengan lelang senilai Rp23 miliar. Dengan kapasitas 1.248 ton aspal karet. Tapi kepada pemenang lelang, kami menegaskan untuk membeli karet dari petani langsung dengan harga Rp8.000 per kilogram," ujar Syaiful.

Adapun karet yang dibeli dari petani harus menyertai bukti pembelian karet dilengkapi dengan KTP petani dan nomor rekening petani tersebut. Ini adalah syarat untuk BBPJN Wilayah V dalam membayar kepada pemenang lelang.

"Pemenang tender ini dibayar setelah bukti bayar petani ini kami dapati. Kalau petani belum menerima uang pembelian, kami tidak bayar pemenang lelang," ucapnya.

Setelah karet diterima, kata dia, quality control dilakukan oleh Tim Balai Karet Sembawa. Brown crepe yang diterima itu nantinya hanya bisa disimpan selama satu tahun, dan melewati dua kali quality control yakni saat brown crepe disimpan di gudang dan akan dikeluarkan dari gudang penyimpanan.

Diakui Syaiful, sebenarnya BBPJN Wilayah V sudah menerapkan penggunaan aspal karet ini untuk pengerjaan jalan di wilayahnya, khususnya Sumsel. Seperti pada 2018 ini, pihaknya menggunaan aspal karet di ruas Muara Beliti-Tebing Tinggi-Batas Kota Lahat sepanjang 5,4 kilometer.

"Inovasi ini sudah kita pakai, di tahun ini. Jadi bukanlah hal baru. Hanya saja, mekanisme pembelian karet yang berbeda," ucapnya.

Aspal karet yang dibeli dari petani secara langsung itu akan dipakai untuk pengerjaan jalan 2019. Ia menjelaskan adapun rencana penggunannya di ruas Muara Beliti-Tebing Tinggi-Batas Kota Lahat sepanjang 2,8 kilometer dam ruas Prabumulih-Beringin-Batas OKU-Baturaja sepanjang 17,2 kilometer.

"Pemanfaatan aspal karet ini sekitar 38 ton per kilometer," ucapnya. 

 

Baca juga: Harga Cabai Merah Keriting di Pasar Cibadak Sukabumi Terjun Bebas

 

Menurutnya, penggunaan aspal karet ini lebih baik dibanding menggunakan aspal biasa. Di antaranya kekuatan jalan akan lebih mumpuni dibanding aspal biasa.

Rencananya, dalam beberapa waktu di tahun mendatang, pihaknya akan menyerap 150.000 ton aspal karet. Artinya penyerapan karet dari petani akan semakin banyak dan ekonomi kerakyatan bagi petani karet akan dirasakan.

Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Dinas Perkebunan Sumsel Rudi Arpian mengatakan secara keseluruhan, karet yang akan dibeli oleh pemerintah pusat sebanyak 150 ribu ton. Pembelian akan dilakukan secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan.

Karet yang dibeli pada tahap awal oleh pemerintah pusat memiliki kadar kering karet (KKK) sebesar 55%-60%. Penentuan klasifikasi itu disesuaikan dengan kapasitas yang bisa dicampur dengan bahan aspal.

"Karena memang kadar sebesar itu yang bisa dicampur dengan bahan aspal. Harga pasar internasional untuk bahan olah karet rakyat (bokar) dengan kadar KKK 60% sekarang ini kisaran Rp9.000-Rp10 ribu per kilogram," jelasnya.

Rudi menjelaskan proses pembelian dari petani karet oleh pengelola pabrik akan dilakukan dengan skema lelang. Sebelum dijadikan bahan campuran aspal, pabrik harus mengolah bokar tesebut. 

Pemerintah akan membayar ongkos tambahan bagi pabrik sebagai ganti biaya pengolahan dan keuntungan yang telah disepakati.

"Kami bakal kawal agar harga yang ditentukan itu yang diterima petani. Selain itu untuk memastikan semua karet berasal dari Sumsel, pabrik harus menyertakan Surat Keterangan Asal (SKA) yang diperoleh dari Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB)," ujar Rudi.

Kuota penyerapan 150 ribu ton bokar akan dibagi secara merata kepada 100 UPPB yang ada di Sumsel. Meski pembelian karet untuk aspal belum tentu mengerek harga karet, namun Rudi berharap langkah pemerintah dapat meningkatkan semangat petani untuk menghasilkan karet berkualitas dengan harga jual yang lebih tinggi lagi. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dwi Tupani
Berita Lainnya