Kota Tua Banyumas Diminta Jadi Seperti Kampung Gedong di Bangka

Liliek Dharmawan
30/11/2018 14:05
Kota Tua Banyumas Diminta Jadi Seperti Kampung Gedong di Bangka
(Suasana Kampung Gedong di Desa Lumut, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung -- MI/LILIEK DHARMAWAN)

KALANGAN DPRD Banyumas, Jawa Tengah (Jateng), memberikan masukan kepada pemkab setempat untuk mengkaji pengembangan kota tua Banyumas sebagai obyek wisata. 

Masukan itu muncul setelah, DPRD melakukan studi ke Kampung Gedong di Desa Lumut, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka di Provinsi Bangka Belitung (Babel).

Wakil Ketua DPRD Banyumas Supangkat mengungkapkan kalau Kampung Gedong memiliki kemiripan dengan wilayah kota lama Banyumas. Pihaknya memberikan masukan kepada pemkab untuk mengkaji pengembangan kota tua di Banyumas. 

"Ada daerah di Kecamatan Banyumas yang dapat dikembangkan sebagai semacam Kampung Gedong. Ada bangunan-bangunan tua yang khususnya dihuni oleh warga Tionghoa. Nah, ini dapat dikembangkan nantinya sebagai obyek wisata," kata Supangkat, Jumat (30/11).

Menurut Supangkat yang datang bersama sejumlah anggota dewan dan Sekretaris DPRD Banyumas Agus Nur Hadie, selain pengembangan lokasi wisata yang berupa kota tua, di lokasi tersebut juga dapat dikembangkan kuliner khas yang ada di wilayah kota tua. 

"Kalau di Kampung Gedong kan ada kemplang atau kerupuk ikan yang dapat dijadikan oleh-oleh para wisatawan. Nah, tentu di Banyumas nantinya juga ada. Tetapi hal itu perlu dilakukan pengkajian lebih mendalam," jelasnya.

Baca juga: Kearifan lokal dan Budaya Samin Menjadi Daya Tarik Wisata

Selain soal wisata rumah tua yang masih dipertahankan dan kulinernya yang khas, satu hal pelajaran berharga adalah pembauran. 

"Buat saya, pembauran di sini sangat luar biasa. Etnis Tionghoa mampu berbaur dengan berbagai etnis lainnya seperti Melayu. Pembauran tanpa saling curiga itu menjadi sangat penting. Karena situasi yang kondusif akan menciptakan ekonomi masyarakat," tambah Supangkat.

Menurutnya, Kampung Gedong di Bangka itu memang unik. Bentuk rumahnya berbeda jika dibandingkan rumah umumnya warga Bangka. Rumahnya kebanyakan berdinding kayu. 

Rata-rata, di salah satu tiang teras rumah, ada semacam tempat hio, sedangkan di dalam rumahnya ada altar tempat pemujaan. Warna merah mendominasi dilengkapi dengan tulisan-tulisan berbahasa mandarin.

Dalam sejarahnya, kampung itu memang merupakan tempat warga Tionghoa yang datang ke Bangka sebagai para pekerja tambang timah. Kemudian mereka membangun kampung di daerah setempat. Bahkan, sampai sekarang kampung yang kini dihuni sebanyak 50 keluarga tersebut. 

"Di sini ada 50 keluarga yang tinggal. Kalau yang tua belum bisa bahasa Indonesia. Mereka rata-rata menggunakan bahasa Hakka. Sebab, nenek moyang berasal dari Guangdong. Leluhur kami memang dari Tiongkok, tetapi kami menjunjung tinggi NKRI," tegas Kepala Dusun Gedong, A Men pekan lalu saat kunjungan DPRD Banyumas, Jawa Tengah (Jateng).

Sementara Kepala Desa Lumut Dicky Julianto mengatakan Dusun Gedong merupakan bagian dari Desa Lumut. Kalau secara total, jumlah penduduk di Desa Lumut sebanyajk 620 keluarga atau 2.000 jiwa. Sejak 2000 lalu, Kampung Gedong telah menjadi kampung wisata. Selain masih tetap mempertahankan bentuk rumah yang umurnya telah ratusan tahun. 

"Di sini juga ada produksi kemplang atau kerupuk ikan. Ikan-ikan hasil dari para nelayan kemudian diproses menjadi kerupuk. Warga di sini juga membuat sambal terasi. Biasanya, para wisatawan yang datang akan membawa penganan itu," jelas Dicky.

Menurutnya, rumah-rumah tempo dulu yang masih tetap dipertahankan kemungkinan nantinya akan diambil alih oleh pemerintah untuk dijadikan cagar budaya. 

"Kalau itu dapat dilakukan, rumah yang dibangun sekitar abad ke-18 tersebut tersebut akan menjadi ikon Kampung Gedong," ujarnya. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dwi Tupani
Berita Lainnya