Banyak Pergeseran Tanah Diteliti

Liliek Dharmawan
30/11/2018 00:45
Banyak Pergeseran Tanah Diteliti
(MI/LILIEK DHARMAWAN)

BENCANA tanah longsor yang sudah terjadi di beberapa daerah pada awal musim penghujan menjadi perhatian banyak pihak. Ada kekhawatiran bencana tanah longsor intensitasnya lebih banyak daripada periode sebelumnya.   

Pemerintah Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah (Jateng), Kamis (29/11), telah menerjunkan tim geologi untuk melakukan kajian terhadap sejumlah titik longsor yang terjadi di Kecamatan Kedungbanteng. Tim akan mengkaji apakah pergerakan tanah sudah berhenti atau belum.
Kepala DPU Banyumas Irawadi mengatakan tim geologi telah diterjunkan guna melaksanakan kajian longsor di Desa Kalikesur dan Windujaya, Kecamatan Kedungbanteng, yang pada Rabu (28/11) mengalami longsor di dua titik desa tersebut.  “Meski tidak ada korban jiwa, masyarakat harus mewaspadai potensi longsor lainnya. Apalagi, kalau curah hujan tinggi dalam jangka waktu lama,” ujarnya.

Menurutnya, untuk penanganan darurat ada beberapa opsi, di antaranya ialah ditangani menggunakan bronjong atau nantinya ada pengalihan jalan. Untuk penanganan permanen, imbuhnya, baru dapat dimasukkan melalui anggaran APBD Tahun 2019.

Pemkab Temanggung juga melakukan langkah-langkah antisipasi terhadap bencana longsor saat memasuki musim penghujan seperti ini dengan memasang 64 unit alat sistem peringatan dini (EWS) dan tiga unit alat pengukur pergerakan tanah di hampir semua wilayah kecamatannya.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana Harian (Plh) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Temanggung, Gito Walngadi, menyebutkan peralatan pendeteksi bencana itu dipasang di 19 kecamatan dari total 20 kecamatan di Temanggung.

“Kecuali Kecamatan Temanggung yang potensi bencananya lebih kecil, 19 kecamatan lainnya kita pasang EWS,” kata Gito, kemarin. Khusus untuk alat pengukuran pergerakan tanah, menurut Gito, hanya dipasang di tiga lokasi saja, yakni Desa Lembujati di Kecamatan Gemawang, Desa Kandangan di Kecamatan Kaloran, dan di Desa/Kecamatan Bejen. Desa-desa tersebut amat rentan longsor.

Pada EWS, jika curah hujan sudah melebihi 50 milimeter, sirine akan berbunyi. Demikian juga jika perge­rakan tanah sudah mencapai batas 3 cm, alat pengukur pergerakan tanah pun akan berbunyi. Dengan demikian, warga akan mendengarnya dan lebih waspada.

Warga terancam
Wilayah Kabupaten Klaten, Jateng, juga merupakan salah satu daerah rawan gerakan tanah atau longsor. Berdasar peta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Jateng, potensi gerakan tanah dan longsor mengancam empat kecamat­an, yaitu Kemalang, Bayat, Cawas, dan Gantiwarno.

Di musim hujan, masyarakat di Kemalang terancam longsor dan Gunung Merapi. Kemudian, longsor Bayat Bukit Jabalkat juga mengancam warga Bayat, serta penduduk Cawas dan Gantiwarno terancam longsor dari Bukit Seribu.

Kepala Pelaksana BPBD Klaten Bambang Giyanto mengatakan ancaman tanah bergerak atau longsor di empat wilayah tersebut perlu diantisipasi dengan meningkatkan kewaspadaan. Selain gerakan tanah, longsor, imbuhnya, Klaten juga rawan gempa bumi, banjir, dan angin­ puting beliung, termasuk, erupsi Gunung Merapi. (TS/JS/YK/DG/N-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya