Gerakan Literasi di Perkampungan Begal

(Eva Pardiana/N-2)
29/11/2018 22:45
Gerakan Literasi di Perkampungan Begal
(MI/Eva Pardiana )

SEKELOMPOK anak usia sekolah dasar asyik melahap halaman demi halaman buku cerita. Beberapa orang memilah buku-buku tersimpan di kardus karena rak yang ada sudah tidak cukup lagi menampung ribuan buku dari donatur. Sebagian lagi memilih meminjam buku untuk dibaca di rumah.

Inilah aktivitas terkini anak-anak Desa Negara Batin, Kecamatan Jabung, Kabupaten Lampung Timur, sejak taman baca Jabung Sai Pustaka hadir 15 Mei tahun lalu. Selepas pulang sekolah, anak-anak yang semula menghabiskan waktu untuk bermain, kini ada kegemaran baru, yakni membaca buku.

Penggagas Jabung Sai Pustaka, Zainal Abidin, menceritakan inisiasi mendirikan taman baca ini muncul karena keprihatinannya atas label kampung begal yang telanjur melekat di Jabung. Label ini seolah sulit dilepas meski pemuda begal di wilayah ini sudah berkurang drastis, sejak banyaknya pelaku yang ditembak mati.

Meski begitu, Zainal mengakui masalah di sini tak hanya kriminalitas, tetapi juga jerat narkoba yang kian mengancam masa depan pemuda Jabung. Ia bertekad menghapus stigma yang melekat di kampungnya dengan membangun generasi baru yang lebih bersih dan cerdas melalui gerakan literasi.

“Kalau yang sudah besar biarlah, tinggal menunggu matinya saja. Yang anak-anak ini harus kita selamatkan. Membaca membuat mereka lebih cerdas dan lebih luas memandang dunia,” ujar Zainal.

Zainal bersama 800 pemuda lain yang tergabung dalam Ikam Jabung Sai mengumpulkan buku dengan berbagai cara. Mulai menggalang donasi hingga mencari peluang memperoleh buku gratis dari berbagai instansi. Hingga kini sudah terkumpul sekitar 6.000 buku. “Buku ini sebagian dari kawan-kawan komunitas dan dari mahasiswa asal Jabung yang tersebar di berbagai kampus, baik di Lampung maupun di Jawa,” ujarnya.

Melihat antusiasme masyarakat yang luar biasa serta banyaknya donasi buku yang terkumpul, Zainal bersama rekan-rekannya tergerak memperluas jangkauan taman baca hingga ke desa lain. Caranya dengan menjalankan pustaka keliling, yaitu Obrok Pustaka dan Pemuda Pustaka. Bahkan, ada pula Martabak Pustaka, penjual martabak keliling yang menyediakan buku bacaan kepada pembeli. “Kami juga berbagi buku dengan komunitas taman baca di daerah lain, di Gunungkidul, Yogyakarta, hingga ke Aceh,” ujarnya.

Selain membaca buku, Zainal juga mengajak anak-anak menonton film pendidikan. Saat ini selain anak-anak, para ibu juga mulai sering meminjam buku seperti buku memasak atau buku bercocok tanam.

Zainal berharap gerakan literasi di Jabung terus berjalan sampai kapan pun dan menjadi motivator lahirnya gerakan literasi di kampung-kampung lain. Ia berharap Pemprov Lampung memberikan dukungan penuh terhadap gerakan ini. “Ke depan mampu berkembang sesuai perkembangan zaman.

Enggak cuma buku, bisa ada komputer. Meski kami tidak pernah teriak meminta, jujur kami pun mengharapkan reaksi dari pemprov agar gerakan ini berkembang lebih cepat, dan sarana-sarana yang dibutuhkan dapat terpenuhi,” harapnya. (Eva Pardiana/N-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya