Mitigasi Bencana, BPBD Magelang Pelopori Sister Village

Syarief Oebaidillah
26/11/2018 22:20
Mitigasi Bencana, BPBD Magelang Pelopori Sister Village
(Ist)

PERGERAKAN lava di Gunung Merapi kembali meningkat. Menurut data yang dihimpun, status Gunung Merapi kini dalam status Waspada atau Level 2. Kondisi ini membuat masyarakat sekitar Gunung Merapi diminta waspada dan berhati-hati.

Dari catatan yang ada, Merapi merupakan gunung berapi yang paling aktif di Indonesia. Juni 2018, gunung yang terletak di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta ini meletus, kendati tidak menimbulkan korban jiwa, seperti pada 2010 lalu.

Berdasarkan pengalaman dari aktivitas Gunung Merapi ini, Badan  Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Magelang, Jawa Tengah, memformulasi tradisi saling bantu antar warga masyarakat saat Merapi meletus kedalam manajemen pengungsian  melalui konsep sister village .

"Sister village terinisiasi karena adanya tekad untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat saat Gunung Merapi meletus. Kami ingin warga yang berada di daerah bencana dapat tertangani dengan baik," kata Kepala BPBD Kabupaten Magelang, Edy Susanto, melalui   keterangan tertulis, Senin (26/11).

Menurut Edy, sister village pada intinya ialah 'menjodohkan' kampung yang berpotensi terkena bencana atau kawasan rawan bencana III (KRB III) dengan kampung yang jauh lebih aman. Di Kabupaten Magelang, kata dia, kini sudah ada 19 desa yang dipersaudarakan atau 'pasaduluran'.

Misalnya Desa Ngargomulyo di Kecamatan Dukun bersaudara dengan Desa Tamanagung di Kecamatan Muntilan. Jika terjadi bencana, penduduk di Desa Ngargomulyo akan mengungsi ke Desa Tamanagung.

"Dengan cara itu, warga yang mengungsi akan langsung diterima di tempat evakuasi akhir atau di rumah rumah warga (saudaranya)," tambah Ratna Yulianti, Sekretaris BPBD Kabupaten Magelang.

Masyarakat yang berada di KRB III sudah mengetahui ke mana akan mengungsi dan melewati jalur evakuasi mana dan mereka akan melaksanakan evakuasi mandiri, sehingga tidak terjadi kepanikan pada saatnya nanti hal ini merupakan salah satu upaya pengurangan risiko bencana.

Untuk menjadi anggota sister village, kampung yang  berpotensi terkena bencana, dipersilakan mencari sendiri pasangannya. Setelah  kedua belah pihak setuju, kemudian membuat kesepakatan (MoU). Satu kampung juga boleh memilih lebih dari satu saudara. Artinya, satu desa KRB III dapat mencari pasangan lebih dari satu desa penyangga atau desa aman.

Jadi, lanjut Ratna, BPBD memfasilitasi pertemuan pasangan kampung. Dalam pertemuan tersebut dibahas beberapa hal, antara lain,  prosedur tetap, jalur evakuasi, titik kumpul, jumlah penduduk desa rawan, kapasitas tampungan desa penyangga, pengelolaan logistiknya, dapur umumnya, cara mengungsi menggunakan kendaraan milik siapa dan lain-lain.

"Kami memfasilitasi mereka, pelaksanaannya dari kampung masing-masing," kata Ratna.

Terkait hal tersebut, ide 'pasaduluran deso' ini, malah sudah diadopsi di daerah di Bali yang terdampak Gunung Agung.

"Bagus sekali ide sister village ini, maka kami mempersiapkan agar ide ini bisa dipakai di daerah lain secara nasional," kata juru bicara Badan Pusat Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho.

Dengan semakin banyak daerah yang mengadopsi sister village ini, Sutopo berharap penanganan korban bencana lebih mudah dijalankan dan lebih manusiawi.

"Jadi, idealnya pengungsi tidak perlu tinggal di tenda-tenda pengungsian tetapi bisa langsung ditampung di rumah-rumah penduduk," tandas Sutopo.

Dia  berharap ide BPBD Kabupaten Magelang ini bisa segera ditiru daerah lain. (RO/OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya