KBI dan Aliansi Sumut Bersatu Adakan Pelatihan Juru Bicara Pancasila

Micom
26/11/2018 11:05
KBI dan Aliansi Sumut Bersatu Adakan Pelatihan Juru Bicara Pancasila
(Ist)

INTOLERANSI kian mengakar di Sumatra Utara, terutama dalam kurun 5 tahun belakangan ini. Gerakannya bahkan sudah masuk ke kampung-kampung. Fakta ini dikonfirmasi oleh Lely Zailani, salah satu aktivis perempuan di Sumut.

Ini seperti mengonfirmasi hasil riset LSI Denny JA beberapa waktu lalu. Dalam rilisnya, LSI Denny JA menemukan data yang mengkhawatirkan. Dalam empat kali survei pada 2005, 2010, 2015, dan 2018, warga pro-Pancasila terus menurun dari 85,2% menuju 75,3%. Jadi selama 13 tahun terakhir, dukungan warga kepada Pancasila menurun sekitar  10%.

Di sisi lain, di era yang sama, pendukung NKRI bersyariah naik 9%. Publik yang pro-NKRI bersyariah tumbuh dari 4,6% (2005) menjadi 13,2% (2018), 13 tahun kemudian.

Hal ini pula yang menjadi pertimbangan Aliansi Sumut Bersatu sebagai lembaga yang memang peduli pada pluralisme dan kebangsaan untuk setuju bekerja sama dengan Komunitas Bela Indonesia (KBI) menyelenggarakan pelatihan Juru Bicara Pancasila.

“Pelatihan ini adalah pelatihan yang luar biasa karena semangatnya ialah cinta Pancasila dan membela keberagaman Indonesia,” ujar fasilitator KBI, Ahmad Khairul Umam, melalui keterangan tertulis, Senin (26/11).

Pelatihan Juru Bicara Pancasila ini cukup matang dipersiapkan. KBI sebagai penyelenggara telah lebih dulu membuat buku rujukan utama yang berjudul Rumah Bersama Kita Bernama Indonesia, yang ditulis oleh Denny JA dan tim.

Bertempat di Hermes Palace Hotel Medan pada  Jumat (23/11) hingga Senin (26/11), dalam pelatihan intensif selama 4 hari itu 40 orang peserta terpilih akan dibekali materi menulis, debat, dan manajemen media sosial agar lebih mumpuni dalam berkampanye terkait  Pancasila, keberagaman, anti-toleransi, kebinekaan,  dan anti-radikalisme di media sosial.

Media sosial saat ini memang tengah menjadi ranah penting dari pertarungan wacana. Berkembang luasnya tren penyebaran hoaks dan ujaran kebencian membuat warganet kita mudah terjerumus dalam konflik dan kebencian. Karena itu, diperlukan gerakan bersama untuk membanjiri dunia media sosial dengan konten-konten positif dan mencerahkan.

“Rumah bersama kita Indonesia sedang diganyang, sedang digerogoti untuk diganti ideologinya oleh pihak yang tidak bertanggung jawab,” tambah perwakilan KBI Nasional, Ilma Sovriyanti Ilyas, dalam sambutannya.  (RO/OL-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya