Nusantara Majemuk sejak Dahulu

FU/N-2
25/11/2018 22:50
Nusantara Majemuk sejak Dahulu
(ANTARA)

KEBERAGAMAN dan kemajemukan sudah menjadi kultur Nusantara sejak zaman dahulu. Kultur itu menjadi ciri Nusantara yang selalu diingat para pelawat asing yang pernah berkunjung ke Indonesia.

Tema itulah yang diangkat dalam Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF) 2018 yang berlangsung di Yogyakarta, pada 25-28 November, dengan mengambil tema Diary and traveling.

Kurator BWCF 2018, Romo Mudji Sutrisno, mengatakan, melalui literatur catatan pelawat asing ini, kultur dan budaya Indonesia harus kembali dibangkitkan agar tidak lupa dan hilang. "Ini penting untuk membaca ulang kultur Indonesia, agar selalu ingat dan tidak hilang," kata Romo Mudji, saat membuka acara BWCF 2018, Kamis (22/11).

Selama empat hari itu, peserta menziarahi catatan-catatan harian pelawat asing yang pernah berkunjung ke Indonesia. Seperti dalam buku Ketenaran Nusantara di Mata Dunia; Kesaksian karya Yi Jing abad ke-7, Cheng Ho Penyebar Islam dari China ke Nusantara, Indonesia di Mata India, kala Tagore Melawat ke Nusantara, Painting and Description of Batavia in Heydt, dan Suma Oriental karya Tome Pires.

Dalam buku-buku itu, menurut Romo Mudji, menyimpan catatan yang menjelaskan kebinekaan Indonesia. Sebuah kultur yang lahir dari keberagaman nilai yang luhur, sumbangan dari agama, suku, budaya, dan bahasa yang bersatu menjadi Bhinneka Tunggal Ika.

"Jadi, kalau kita mau kembali ke jati diri keindonesiaan, kita harus melihat kultural. Jalan budayanya adalah merawat kehidupan dengan seluruh kearifan lokal yang ada di masyarakat," ujar Romo Mudji.

Romo Mudji meminjam pepatah asam di gunung garam di laut, bertemu di belanga. "Kita harus kembali ke kultural dan menafsir lagi dalam belanga," sambung Romo Mudji.

Teks-teks lawatan asing mulai Timur sampai Barat, dibahas dalam BWCF 2018. Teks itu lalu ditasfir ulang dalam belanga untuk mencapai kesadaran dan tercerahkan. "Dari situ kita menemukan bahwa kultur Indonesia itu luar biasa indahnya. Dan nilai yang sangat berharga," imbuh Romo Mudji.

Pembicara lainnya, penulis senior Toeti Heraty Noerhadi Roosseno menilai, nilai-nilai kultur harus ditampilkan kembali kepada masyarakat agar tidak lupa. Hal itu mengingatkan Toeti saat hadir dalam pertemuan ahli filsafat di Beijing, pada Agustus. "Terpenting bagi setiap negara adalah menemukan identitas kulturalnya," jelas Toeti.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya