Masuk ke Pulau Komodo bakal Dikenai Tarif US$500 per Orang

Palce Amalo
21/11/2018 18:30
Masuk ke Pulau Komodo bakal Dikenai Tarif US$500 per Orang
()

GUBERNUR Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Bungtilu Laiskodat menegaskan satwa langka Komodo (Veranus Komodoensis) yang hidup di Pulau Komodo dan pulau-pulau sekitarnya, tidak dapat ditonton dengan ongkos yang murah.

"Saya segera bicara dengan pemerintah pusat. Kita akan tutup dan buat syarat, masuk Komodo minimal 50 dolar Amerika (sekitar Rp7 juta kurs Rp14.000 per US$1)," katanya saat berbicara di hadapan puluhan sivitas akademika dan pimpinan Perguruan Tinggi se-daratan Timor, Alor, dan Rote Ndao 2018 di Kupang, Rabu (21/11).

Untuk wisatawan yang datang ke Labuan Bajo menggunakan kapal pesiar akan dikenai tarif lebih mahal yakni US$50 ribu atau sekitar Rp700 juta dengan kurs Rp14.000 per dolar.

"Kalau tidak mau, boleh, asal parkir kapalnya di Labuan Bajo dan kenai pajak dan boleh masuk ke Komodo dengan membayar US$500," tambahnya.

Menurut Viktor, saat ini banyak tur operator di Bali menjual wisata ke Komodo dengan ongkos yang murah karena mereka hanya membayar karcis masuk yang sangat murah dan tidak terkontrol termasuk pembuangan sampah.

"Padahal ini tempat langka," ujarnya.

Selama ini, wisatawan yang berkunjung ke Labuan Bajo, banyak yang menginap di hotel-hotel bertarif murah, kemudian menyewa perahu secara bebas ke Pulau Komodo. Ke depan akan ditata pemerintah sehingga semua orang yang masuk ke Komodo tertib dan harus terdata dengan baik.

Pemerintah juga akan mengatur parkir kapal wisata dan kapal nelayan sehingga rapi jika dilihat dari pesawat. Campur tangan pemerintah NTT membenahi Komodo tersebut sebagai bagian dari visi dan misi Gubernur dan Wakil Gubernur NTT menjadikan pariwisata sebagai lokomotif dalam pembangunan ekonomi NTT.

Selain itu, selama ini Komodo tidak memberikan kontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD) karena dikelola pemerintah pusat.

"NTT hanya dapat bagian orang datang dan menginap," ujarnya.

Menurut politikus Partai Nasdem tersebut, pemberlakuan tarif juga diakukan terhadap wisata menyelam di parairan Pulau Alor. Selama ini, para penyelam dari berbagai negara dibiarkan bebas menyelam tanpa pengawasan.

"Saya heran, orang turun ke laut, tidak ada yang mengecek dia keluar bawa apa," ujarnya.

Karena itu, menurut Dia, semua penyelam akan diperiksa setelah pulang dari menyelam. "Kita periksa untuk mengecek apa yang dia ambil," tandasnya. (OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya