Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PRODUK media sosial (medsos) bukan merupakan karya jurnalistik, melainkan hanya informasi. Penegasan tersebut dikemukakan Ketua Dewan Pers Joseph Adi Prasetyo pada acara Seminar Agama-Agama, Media, dan Politik yang diselenggarakan di Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Margo Mulyo, Jalan Margo Mulyo, Kota Yogyakarta, Selasa (20/11).
Joseph menjelaskan produk medsos berbeda dengan produk pers yang selalu terverifikasi dan terklarifikasi. Selain itu, lanjutnya, sebelum menjadi berita yang ditayangkan atau dimuat atau diunggah, ada filter-filter pemberitaan, mulai redaksi hingga pemimpin redaksi. “Kalau di media sosial tidak melalui verifikasi semacam hal itu, tetapi individual,” ujarnya.
Joseph tidak menampik bahwa memang saat ini semua melihat adanya media baru selain media yang telah dikenal selama ini, yakni radio, televisi, dan media cetak baik koran, majalah, dan sebagainya. Di sisi lain telah muncul media yang baru, yakni media online maupun televisi streaming.
“Yang kemudian menjadi pertanyaan, sekarang banyak media mainstream yang justru sering memantau dan kemudian mengembangkan berita yang berasal dari informasi di media sosial. Padahal yang dipahami, informasi di media sosial tidak terverifikasi dan tidak terklarifikasi sebagaimana media mainstream. Dari sini seharusnya masyarakat menggunakan daya kritisnya dalam menilai dan merespons informasi yang disajikan media sosial.
Sementara itu, Biksu Santacitto dari Vihara Mendut menambahkan banyak pihak yang memanfaatkan media sosial, tetapi tidak dengan cara-cara yang bijaksana. Bermedia sosial, katanya, sepatutnya dikembangkan atas rasa cinta kasih, untuk kesejahteraan bersama, dan dengan mempertimbangkan manfaat.
“Apakah yang kita share itu bermanfaat bagi orang lain, bagi kesejahteraan bersama, atas dasar cinta kasih dan apakah berdasar fakta serta kebenaran,” imbuhnya. Jika memang tidak bermanfaat atau bahkan akan menimbulkan kegaduhan, menurut Biksu Santacitto, tidak perlu kemudian diunggah atau di-share.
Ia mengingatkan konflik-konflik yang terjadi selama ini terutama yang berbau agama lebih banyak disebabkan oleh kebodohan. “Merasa dirinya dan kelompoknya paling benar dan tidak mau melihat adanya kebenaran orang lain,” ujarnya.
Jangan diam
Jay Ahmad dari Gusdurian menambahkan selama ini di medsos masyarakat sering disuguhi dengan Islam Ramah vs Islam Marah. Menurut dia, media sosial ternyata lebih banyak dikuasai mereka yang berasal dari kelompok yang sering mengunggah narasi-narasi perpecahan.
Menghadapi hal semacam itu, ujarnya, seharusnya masyarakat yang pro keberagaman tidak hanya diam.
“Selama ini hanya diam. Akibatnya, mereka yang suka menebar narasi perpecahan itu merasa benar sendiri, merasa menang dan merasa mayoritas,” ucapnya. Mereka itu mudah dilihat dari ciri-ciri yang sering mereka ungkap, yang biasanya menganggap puritan.
Direktur Intelkam Polda Daerah Istimewa Yogyakarta, Kombes Nanang Djuni Mawanto, pada kesempatan itu menambahkan intoleransi memang menjadi salah satu sumber konflik. Dicontohkan di DIY, meski beberapa kali terjadi konflik, hal itu masih dapat dikendalikan jajaran pemerintahan dan polisi di tingkat lokal. “Terbukti dengan berbagai kegiatan yang dapat berjalan lancar dan tanpa gangguan,” pungkasnya. (FU/N-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved