Bagikan 2,5 Ton Bibit, Rangsang Warga Bertani

(YH/RF/N-3)
21/11/2018 04:30
Bagikan 2,5 Ton Bibit, Rangsang Warga Bertani
(ANTARA FOTO/Rahmad)

NAGARI Lansano Taratak, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, membagikan bibit padi gratis sebanyak 2,5 ton bagi masyarakat setempat. Itu upaya memotivasi mereka agar turun ke sawah.

“Program ini sudah berjalan sejak dua tahun terakhir. Kami berharap kegiatan ini bisa memo-tivasi petani turun ke sawah karena biaya yang mesti dikeluarkan sudah pasti berkurang,” kata Wali Nagari Lansano Tara­tak, Nopen Hendri, Selasa (20/11).

Dengan bibit padi gratis itu, varietas padi yang ditanam untuk satu kali masa tanam sejenis. Hal itu bisa meminimalkan serangan hama. Bibitnya merupakan varietas unggul, yakni IR42. Selain harga gabah dan berasnya tinggi, nasi dari varietas itu enak dan diminati masyarakat.

“Penerima bantuan ditetapkan sebanyak 200 orang, di antara mereka ada yang dapat satu kan-tong benih dan ada juga yang dua, tergantung luas lahan yang dikelola. Anggaran diambil dari dana desa sebesar Rp25 juta,” ungkap Nopen.

Agar penyerahan bantuan merata, pihaknya tidak hanya menginformasikan bantuan dari mulut ke mulut. Pihaknya mendatangi masyarakat langsung ke rumah mereka untuk memberitahukan adanya program bibit gratis itu. “Alhamdulillah, selama ini pemberian bibit tepat sasaran,” ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Bang-ka Belitung (Babel) Erzaldi Rosman Djohan meminta ekspor lada harus dari Pelabuhan Pangkabalam Pangkalpinang. Hal ini bertujuan mengantisifasi lada asal Babel tidak dicampur dengan lada daerah lain.

Selama ini, ungkap Erzaldi, ekspor lada babel melalui Jakarta dan Surabaya. Ke depanya, Pemprov Babel akan mengekspor langsung dari Babel, tidak lagi melalui pihak ketiga.

“Babel memiliki karunia hasil perkebunan lada yang tingkat kepedasannya tidak dimiliki daerah lain, yakni 7%. Kalau diekspor dari luar Bangka, akan dicampur lada daerah lain.  Tingkat kepedasan lada Babel tidak bisa ditiru,” ujar Erzaldi, dalam dialog mengembalikan kejayaan lada, di kebun lada LP Kelas II Pangkalpinang, kemarin.

Kelak, menurut dia, jika masih ada yang menjual lada babel dengan merek Muntok White Papper, tetapi bukan diekspor atau dikirim dari Babel, akan dilaporkan. “Kami lapor ke polisi kalau ada yang jual lada bilang lada babel, tapi ternyata bukan,” tegas Erzaldi.

Petani lada, imbau Erzaldi, jangan selalu mengeluh dengan harga yang murah. Sebenarnya harga bukan salah satu masalah, tapi bagaimana menggenjot produksinya. Pilih mana, tambahnya, harga tinggi tapi produksi per hektarenya hanya 400 kg atau harga Rp50 ribu tapi produksi per hektarnya 2 ton.  

“Saat ini kita berusaha mencari bibit yang bagus agar hasilnya setiap hektare bisa 2 ton seperti di Vietnam,” tandasnya.(YH/RF/N-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya