Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TRADISI Sekaten untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW atau yang dikenal dengan Maulud Nabi masih terus digelar Keraton Surakarta.
Tradisi dimulai dengan ditabuhnya dua perangkat gamelan pusaka Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari di Masjid Agung Keraton Surakarta pada sepekan lalu.
Pada Selasa (20/11) siang, tradisi yang sudah berlangsung sejak masa Kerajaan Demak pada abad 15 itu, memunculkan dua gunungan makanan dan hasil bumi dari dalam keraton untuk dikirab ke Masjid Agung.
Ribuan kawula Solo sekitar dan juga turis selalu menyambut hajaddalem keraton beruwjud dua gunungan makanan dan hasil bumi yang diperebutkan di halaman Masjid Agung dan satu halaman Kori Kamandungan Keraton.
Dua gunungan, yang disebut gunungan jaler berisi makanan campur hasil bumi diperebutkan di halaman Masjid Agung setelah diberi doa oleh ulama keraton. Satunya lagi gunungan isteri berisi makanan dan sayuran untuk diperebutkan para abdidalem di Kori Kamandungan.
Baca juga: Gunungan Grebeg Maulid di Solo Jadi Rebutan Warga
Suratman, 58, dari Delanggu mengaku sudah puluhan tahun tidak pernah abden dengan tradisi Grebeg Maulud, yang diwujudkan dalam kirab dua gunungan makanan dan hasil bumi dari keraton itu.
"Saya kebetulan berebut dapat bengkoang, mudah-mudahan nanti panenan saya diberkahi dan lancar," tutur petani Delanggu ini.
Pada bagian lain, ulama keraton yang juga Ketua Takmir Masjid Agung Muhtarom menyatakan Grebeg Maulud merupakan puncak Sekaten dari Keraton Kasunanan Surakarta menuju Masjid Agung Surakarta.
"Kegiatan Sekaten ditandai dengan mengeluarkan gamelan Keraton selama sepekan, dan berakhir, pada Selasa ini. Kemudian juga mengeluarkan gunungan sebanya dua pasang yang berisi hasil bumi dari keraton," ujar dia. (OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved