Pemerintah Kejar Pemulihan Belajar di Sulteng

Rizky Noor Alam
18/11/2018 02:50
Pemerintah Kejar Pemulihan Belajar di Sulteng
(ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

PEMERINTAH terus mendorong percepatan pemulihan kegiatan belajar mengajar pada sejumlah daerah di Sulawesi Tengah (Sulteng) pascabencana pada 28 September lalu.

Hal itu disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy saat apel pencanangan Gerakan Anak Sulteng Bangkit Lebih Hebat, di halaman Kantor Gubernur Sulteng, Palu, Sulteng, kemarin.

"Pemerintah ingin kebangkitan anak-anak Sulteng menjadi lebih cepat dan lebih hebat, terutama untuk pemulihan kegiatan pembelajaran di sekolah," ungkap Muhadjir.

Menurut dia, pemulihan proses belajar mengajar di sekolah, tidak terlepas dari peran guru meski tidak sedikit guru yang mengalami dampak bencana.

Melalui pencanangan Gerakan Anak Sulteng Bangkit Lebih Hebat, Muhadjir mengajak peserta dan tenaga pendidik untuk aktif mengajak peserta dan tenaga pendidik yang hingga kini belum aktif agar kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah. "Sebab, jika peserta didik dibiarkan berlama-lama tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar bisa berakibat buruk," ujar Muhadjir melalui keterangan resminya.

Sebagai upaya meringankan beban guru, khususnya yang terkena dampak bencana, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyiapkan tunjangan khusus sebesar Rp76,2 miliar untuk 15.080 guru di empat kabupaten, yakni Palu, Sigi, Donggala, dan Parigi Moutong. Dalam apel itu, Mendikbud juga menyerahkan secara simbolis buku tabungan kepada 200 guru.

"Para guru saya harap tidak patah semangat dalam menjalankan tugas mengajar dan mendidik siswa. Saya yakin guru di Sulteng mampu memompa semangat murid-muridnya untuk belajar dan melompat lebih tinggi menggapai cita-cita mereka," ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Mendikbud juga menyerahkan bantuan alat-alat sekolah (school kit) sebanyak 40.000 paket, yang terdiri atas tas, seragam sekolah, dan alat tulis untuk siswa SD, SMP, SMA, SMK dan SLB.

Selanjutnya, Kemendikbud mengupayakan pembangunan kelas darurat di 200 titik yang dapat menampung 400 ruang kelas. Pembangunan kelas darurat juga diupayakan oleh UNICEF dengan memberikan 450 tenda. Bantuan Kemendikbud lainnya ialah perangkat pembelajaran teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk 50 titik di empat kabupaten terkena bencana.

Dompet kemanusiaan
Sebelumnya, Yayasan Media Group sejak 29 September lalu telah membuka Dompet Kemanusian untuk menggalang bantuan yang akan disalurkan kepada korban gempa dan tsunami di Palu, Sigi, Donggala, dan Parigi Moutong.

Ketua Tim Dompet Kemanusiaan Media Grup Ali Sadikin menyampaikan dengan bantuan yang diterima, pihaknya antara lain mulai melakukan revitalisasi sekolah-sekolah yang hancur akibat bencana.

"Kalau targetnya, mungkin awal tahun depan seharusnya sudah bisa ditentukan sekolah mana saja, minta persetujuan pemda, persetujuan yayasan, atau pemilik sekolah swasta di sana. Setelah setuju, nanti harus didesain, ditender, baru dibangun, dan itu butuh waktu," jelas Ali saat dihubungi, tadi malam.

Selain itu, Media Group kemungkinan juga akan membangun Sekolah Sukma Bangsa seperti di Aceh, untuk memfasilitasi anak-anak yang kehilangan orang tua sehingga anak-anak itu mendapatkan pendidikan berkualitas dan gratis.

Untuk saat ini, dalam hal pemenuhan kebutuhan pendidikan, Media Group turut memberikan dukungan berupa guru di sekolah-sekolah darurat dan sekolah-sekolah yang rusak terkena bencana.

"Kalau sekarang kita sudah ada 12 tempat untuk sekolah darurat yang dilakukan oleh guru-guru kita yang berasal dari Sekolah Sukma Bangsa di Aceh," pungkas Ali. (E-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya