Moeldoko: Jangan Rusak Budaya karena Pemahaman yang Sempit

Tosiani
15/11/2018 20:05
Moeldoko: Jangan Rusak Budaya karena Pemahaman yang Sempit
(Tosiani /Koresponden)

KEPALA Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Moeldoko meminta generasi sekarang jangan merusak budaya yang merupakan warisan leluhur hanya karena pemahaman agama yang sempit.

"Soal budaya, hei anak muda kalian belum berbuat sesuatu negara ini. Jangan apa yang sudah dibuat dan ditinggalkan para pendahulu negara kita itu dirusak hanya karna pemahaman yang sempit," cetus Moeldoko di sela Festival Hak Asasi Manusia di Wonosobo, Jawa Tengah, Kamis (15/6) petang.

Ia mengingatkan agar Indonesia jangan seperti Afghanistan. Di negara itu patung-patung dirobohkan tanpa tahu apa maksudnya. Seni dan budaya di Indonesia, katanya, harus tetap hidup. Harus dibedakan antara budaya dan agama.

"Kalau budaya yang tumbuh subur tanpa mengurangi keimanan seseorang, ngapain itu dirusak," ujar Moeldoko.

Ia menceritakan keberadaan patung ular naga di Singkawang yang sudah dibangun pernah akan dirusak oleh sekelompok ormas. Padahal patung itu sudah ada sejak ia belum lahir. Moeldoko mencegahnya, baginya, apa pun yang akan mengusik Singkawang akan berhadapan dengan Moledoko yang ketika itu menjadi Pangdam.

"Patung-patung itu tidak ada urusannya sama keimanan dan keyakinan kita. Semua berdiri masing-masing. Saya tidak senang dengan perilaku yang merasa paling benar dan merasa paling masuk surga," katanya.

Moeldoko meminta, harus dibedakan antara karya-karya budaya dan keyakinan dan keimanan seseorang. Itu ciri bangsa Indonesia yang justru bikin kagum orang luar. Ada berbagai agama dan budaya yang berkembang sesuai Pancasila.

Soal HAM, lanjut Moeldoko, yang paling penting penghormatan pada kemanusiaan. Berbagai pelanggaran masa lalu adalah residu persoalan yang belum tuntas. Memang tidak mudah menuntaskan. Dengan pendekatan yudisial ada banyak hal yang perlu dilengkapi. Kalau dengan pendekatan non-yudisial tidak semuanya setuju.

"Mari kita pikirkan apa yang akan terjadi dengan HAM saat menghadapi lingkungan yang berubah dengan cepat," katanya.

Menurutnya, ada 20 persoalan yang mempengaruhi finansial global di era revolusi industri gelombang 4.0. Yakni perbankan tidak akan lagi seperti sekarang ini bentuknya. Semua terfasilitasi oleh teknologi. Akan ada penyusutan tenaga kerja.

"Ini harus dipikirkan. Orang sudah malas membeli mobil. Negara yang berbasis pada minyak kecenderungan akan kolaps. Mobil listrik lebih tren, jadi pablik komponen baja akan tergantikan komponen ringan," ujarnya. (OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya