Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ASOSIASI Petani Tembakau Indonesia (APTI) berterima kasih jika pemerintah tidak menaikkan cukai tembakau sampai 2019. Pasalnya hal itu akan berdampak buruk kepada dua juta lebih petani tembakau atau sekitar 15 juta orang yang bergantung hidup pada petani tembakau.
"Sebab kalau itu naik berdampak pada mahalnya harga rokok, dan penurunan prefalensi perokok dan akhirnya serapan dari petani menjadi berkurang kan," kata Soeseno Ketua Umum APTI saat menyerahkan dana bantuan perbaikan oven (alat pengering) kepada sejumlah petani tembakau di Desa Sikur, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) Rabu (14/11).
Dikatakannya, dampak terburuk, kecuali tahun ini dan tahun depan, terlihat sejak beberapa tahun cukai terus naik sekitar 10%. Permintaan rokok mulai 2015 ke 2016 turun sekitar 6 miliar batang, dan pada 2016 ke 2017 kira-kira 8 miliar batang.
Jumlah itu sebutnya jika dikonfersikan 8 miliar batang (8.000 ton) itu kalau tembakau Virginia rata-rata 2 ton per hektare berarti sudah 4 ribu hektare.
"Besar juga dampaknya ke petani. Nah, ini kalau terus menerus cukai ini demikian eksesif naik sudah tentu sangat berpengaruh," ujar Soeseno.
Menurut Soeseno, pernerimaan negara dari cukai sangat besar. Target 2019 itu Rp161 triliun, sedangkan 2017 kemarin saja capaiannya Rp148 triliun. Angka itu jauh dibandingkan dengan penerimaan negara dari Freeport yang hanya Rp20 s/d Rp21 triliun per tahun, bahkan kemarin turun hingga Rp8 triliun.
"Beda jauh, jadi Freeport itu lima tahun sudah ditempuh dengan cukai hanya dua tahun," kata Soeseno.
Dia juga menyebutkan, laba BUMN se-Indonesia total 44 triliun. Angka tersebut pun jauh lebih kecil daripada penerimaan negara dari cukai.
"Dibandingkan dengan cukai gak ada apa apanya itu. Nah ini sumbangan tembakau kepada pendapatan nasional," katanya.
Ia menekankan, ada sekitar 200 petani tembakau yang sudah diverifikasi mengalami kerusakan alat oven akibat gempa. Dari jumlah tersebut APTI hanya bisa membantu perbaikan sekitar 26 oven dengan dana sebesar Rp250 juta.
Menurut Soeseno, dalam kaitan itu, bertepatan dengan peringatan World Tobacco Growers Day 29, Oktober lalu karena gempa menerjang Lombok kemudian temanya dirubah menjadi Solidaritas Petani Tembakau untuk Lombok Bangkit yakni, perbaikan rumah oven tembakau di beberapa lokasi yang ada di Lombok Timur.
Soeseno menyebutkan, peranan tembakau Virginia Lombok sangat starategis yaitu sebagai pemasok bahan baku Industri rokok. Virginia secara nasional dari 300 ribu ton, sebanyak 30 ribu ton berasal dari Lombok,
"Nah walaupun tidak semuanya rusak kira-kira berpengaruh sekitar 10%," katanya.
Potensi tembakau Virginia Lombok seluas 58.515 hektare yang tersebar paling banyak di Lombok Timur, berikut Lombok Tengah dan Lombok Barat. Dengan luas lahan tersebut produksi tembakau virginia di NTB sebesar 39.586,91 ton (berdasarkan data ASEM 2016).
Sebagai bentuk empati serta solidaritas, acara ini juga dihadiri beberapa perwakilan Pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) APTI dari Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, dan Madura.
Baca juga: Cukai tak Naik, Misbakhun: Presiden Jokowi Perhatikan Asiprasi Petani Tembakau
Kabid Perkebunan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Lombok Timur, Syairul Kabir mengatakan, sisa 174 oven tembakau yang juga harus diperbaiki diharapkan diperoleh dari pihak lain.
"Insyaallah akan ada anggaran biaya dari pemerintah untuk membantu pemulihan oven lainnya," kata Syairul.
Saat ini, sebutnya, Pemkab Lombok Timur juga memberikan bantuan sebesar Rp17,2 miliar yang dibagikan kepada 18.100 petani tembakau Virginia maupun petani tembakau rajangan.
Staf Ahli Gubernur NTB Bidang Ekonomi, Azhar mengatakan, usaha tani tembakau di Lombok Timur memberikan kontribusi cukup besar terhadap pendapat produk domestik regional bruto dan ini sudah berlangsung cukup lama.
"Semakin diminati oleh penduduk terutama di Kabupaten Lombok Timur," kata Azhar.
Azhar menyebutkan, tingginya minat masyarakat mengusahakan tembakau Virginia karena dipicu besarnya intensif ekonomi yang diperleh petani,
"Tetapi bila ditilap lebih dalam kehidupan mereka sangat bertolak belakang dengan perkembangan bisnis produk tembakau itu sendiri," kata dia.
Padahal sebutnya, petani tembakau merupakan ujung tombak dalam tata niaga tembakau di Indonesia. Ironisnya, petani tembakau merupakan kelompok paling rentan dalam mata rantai tata niaga tembakau karena mereka harus menghadapi sendiri risiko seperti gagal panen. (OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved