Sumsel akan Buat Perda Resapan Air

Dwi apriani
15/11/2018 01:00
Sumsel akan Buat Perda Resapan Air
(MI/Dwi Apriani )

GUBERNUR Sumatra Selatan (Sumsel), Herman Deru, akan membuat peraturan daerah mengenai perlindungan dae­rah resapan air. Hal itu terkait dengan banjir besar yang terjadi di Kota Palembang  dalam beberapa hari ini. Menurut Herman Deru, Pemprov Sumatra Selatan pernah punya perda untuk resapan air khusus untuk Kota Palembang. Aturan tersebut mengatur larangan pembangunan di daerah resapan air, seperti rawa dan gambut.

“Karena ini sifatnya genting, saya akan buat pergub terlebih dahulu, sembari menunggu kajian teknis agar bisa dibuat perda sehingga aturannya bersifat menyeluruh di kabupaten/kota di Sumsel. Daerah nantinya membuat perda turunan mengenai pengaturan teknisnya,” terang Herman, Rabu (14/11).

Banjir di Kota Palembang itu diduga efek pembangunan tiang light rail transit (LRT) yang menyumbat drainase. Selain itu, kabel listrik, pipa air, dan pipa gas diduga ikut menyumbat drainase. Herman Deru akan memanggil kontraktor LRT Sumsel serta BUMN dan BUMD pemilik jaringan utilitas yang ada di Palembang.

“Saya akan meminta laporan dulu tentang peta pipa dan peta kabel yang ditanam di sekitar Kota Palembang. Jika benar ada yang menghalangi drainase, kami minta dinas terkait mengeluarkan peringatan kepada perusahaan pemilik utilitas,” ujar Deru.
Ancaman banjir juga melanda Jawa Barat. Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, menyatakan bahwa 60% bencana hidrologi terjadi di Jawa Barat.

“Ini ada catatan sejarahnya. Apalagi sekarang penduduknya ada 50 juta, maka ini harus diselesaikan lintas wilayah. Tidak bisa diselesaikan level wali kota atau bupati,” kata Emil seusai meresmikan program Layanan Rawat dan peresmian 119 public safety center di Kota Cirebon, Rabu (14/11).

Saat memasuki musim hujan, sejumlah daerah pun telah siap mengantisipasinya. Badan Penanggulangan Bencana Daerah Banjarnegara, misalnya, bergerak ke desa-desa rawan bencana, untuk membentuk desa tangguh bencana.
BPBD Banjarnegara bekerja sama dengan PMI menyelenggarakan pelatihan desa tangguh bencana, dengan melibatkan semua unsur masyarakat pada 13-15 November di Desa Majasari, Kecamatan Pagentan.

Hal serupa juga dilakukan BPBD Sulawesi Selatan. Pihak mereka sudah menggelar rapat koordinasi siaga darurat cuaca ekstrem bersama Pemprov Sulsel, kemarin. Empat bencana yang menjadi perhatian ialah banjir, tanah longsor, puting beliung, dan abrasi.
Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman, Kabupaten Kulonprogo, DIY, juga telah memetakan  14 titik aliran sungai memicu banjir.

Sementara itu, di Karawang dan Bangka Belitung dikerahkan relawan dan babinsa untuk mengatasi banjir.  

Pencarian korban longsor
Pada bagian lain, tim gabungan hingga kemarin masih melakukan pencarian terhadap korban bencana tanah longsor yang terjadi di Desa Suka Maju Mobili, Kecamatan Gomo, Kabupaten Nias Selatan.

Tiga korban tewas sudah dievakuasi, yakni Cristoven Hulu (4), Yusti Ayu Putri Hulu (5), dan Mardarman Hati Hulu (6). Sementara itu, empat orang lainnya masih dicari. Koordinator Pos Pencarian dan Pertolongan Basarnas Nias Tonggor Gultom mengatakan empat orang yang belum ditemukan ialah Aristina Laia (33), Setiamas Hulu (30), Reinshon Septi Huku (3), dan Noferman Jaya Hulu. (PS/WJ/JS/LD/CS/UL/LN/RF/EM/AU/JI/N-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya