Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SITI Romlah tekun dan telaten mencelupkan canting ke lilin cair. Lantas ia menggoreskan ujung canting ke kain katun warna dasar putih lengkap dengan motif yang sudah dibuat Khoirun Nisa, Suindah, dan Tunik.
Perlahan tapi pasti, kain berukuran 2 meter yang disampirkan di depan Siti itu penuh warna. Tak begitu lama, karya batik ternyang bermotif bunga dan buah kesemek pun akhirnya kelar.
Tahapan selanjutnya ialah memasuki proses pewarnaan dan menggodok kain untuk menghilangkan lilin. Itu tugas Siti Khotimah, Herti, Nopi, dan Ngadiah. Sementara itu, Semiarni, Farida, Ulfa, Wasilah, dan Isnaeni menjemur kain pascaproses pewarnaan. Di sisi lain, Indah Nafisah yang mengentas kain batik.
Di rumah produksi batik tak jauh dari Bendungan Sutami, Malang, sekitar 20 orang rutin bekerja untuk memproduksi batik. Ibu-ibu berusia 30-50 tahun warga desa setempat, sebagian besar mantan pekerja migran, dalam beberapa tahun belakangan berdaya dari menghasilkan karya. Usaha bersama batik buatan mereka banyak diminati konsumen, bahkan mampu membendung pekerja migran perempuan untuk kembali bekerja di Malaysia, Taiwan, dan Arab Saudi.
“Ibu-ibu pembatik itu ada yang mantan TKI,” tegas koordinator pembatik Desa Ternyang, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Indah Nafisah kepada Media Indonesia, Rabu (14/11).
Tidak mudah mengajak para ibu membatik karena mereka umumnya bekerja di sawah, mengurus anak, berdagang, dan ada yang malas bersosialisasi, terutama para mantan pekerja migran.
Sosialisasi dan edukasi pun getol dilakukan saat pertemuan PKK dan pengajian. Sekitar dua tahun lalu, lanjutnya, hanya ada lima ibu rumah tangga bersedia membuat batik. Itu pun perlakuannya harus sabar sebab mereka minta diantar ke tempat pelatihan. Maklum, nama Desa Ternyang sesuai dengan karakter warganya. “Konon nama Ternyang itu bermakna Yen ora diter, ora nyang (Kalau tidak diantar, tidak berangkat),” tuturnya.
Dari lima orang tersebut, hasil batik dijual ke pasar Rp150 ribu per potong. Ternyata animo konsumen cukup banyak dan batik laku keras.
Kelompok perempuan pembatik itu rutin mendapatkan kepelatihan program peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pelatihan Kerja Singosari, Malang.
“Setelah mengikuti kepelatihan, batik yang kami produksi semakin baik dan berkualitas, bisa laku Rp250 ribu per potong,” katanya.
Kini, di industri rumahan itu para ibu rumah tangga mampu memproduksi 40 batik per pekan. Belum termasuk batik yang dihasilkan sendiri di rumah masing-masing. Mereka menerima banyak pesanan setelah batik ternyang makin populer.
Tokoh masyarakat Desa Ternyang, Abdul Haris, mengatakan usaha bersama batik terbukti mampu meningkatkan pendapatan warga. Awalnya bermodal Rp5 juta, sekarang sudah berkembang menjadi puluhan juta rupiah.
Sementara itu, Kepala Seksi Pelatihan dan Sertifikasi UPT Pelatihan Kerja Singosari Sentot Fajar mengatakan pelatihan batik merupakan program pemerintah untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas tenaga kerja. Selain membatik, pelatihan lainnya berupa servis ponsel, gulung dinamo, finising mebel, dan kuliner. (Bagus Suryo/N-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved