Batik Trenyang, Karya para Mantan TKI

Bagus Suryo
14/11/2018 14:05
Batik Trenyang, Karya para Mantan TKI
(Bagus Suryo)

SITI Romlah, tekun dan telaten mencelupkan canting ke lilin cair. Lantas, ia menggoreskan ujung canting ke kain katun warna dasar putih lengkap dengan motif yang sudah dibuat oleh Khoirun Nisa, Suindah dan Tunik.

Perlahan tapi pasti, kain berukuran dua meter yang disampirkan di depan Siti itu penuh warna. Tak begitu lama, karya Batik Ternyang bermotif bunga dan buah kesemek pun akhirnya kelar.

Setelah itu memasuki proses pewarnaan dan menggodok kain untuk menghilangkan lilin menjadi tugas Siti Khotimah, Herti, Nopi dan Ngadiah. Adapun Semiarni, Farida, Ulfa, Wasilah dan Isnaeni menjemur kain pascaproses pewarnaan, sedangkan Indah Nafisah yang mengentas kain batik.

Di rumah produksi batik tak jauh dari Bendungan Sutami, Malang, sekitar 20 orang rutin bekerja untuk memproduksi batik. Ibu-ibu berusia 30-50 tahun warga desa setempat, sebagian besar mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI), dalam beberapa tahun belakangan berdaya dari menghasilkan karya. 

Usaha bersama batik buatan mereka sudah banyak diminati konsumen. Bahkan mampu membendung Tenaga Kerja Wanita (TKW) untuk kembali bekerja di Malaysia, Taiwan dan Arab Saudi.

"Ibu-ibu pembatik itu ada yang mantan TKI," tegas Koordinator Pembatik Desa Ternyang, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Indah Nafisah kepada Media Indonesia, Rabu (14/11).

 

Baca juga: Agar Desa tidak Gagap Hadapi Era 4.0

 

Menurut Indah, semula memang sulit mengumpulkan ibu-ibu. Mereka umumnya sibuk bekerja di sawah, mengurus anak di rumah, berdagang di pasar, ada juga yang malas bermasyarakat apalagi yang TKW. Namun, ia terus mengajak perempuan desa setempat untuk mandiri dan berdaya agar hasilnya bisa mencukupi kebutuhan dan biaya sekolah anak-anak.

Sosialisasi dan edukasi pun getol dilakukan saat pertemuan PKK dan pengajian. Sekitar dua tahun lalu, lanjutnya, hanya ada lima orang ibu rumah tangga yang bersedia mencoba membuat batik. Itupun perlakuannya harus sabar, sebab mereka minta diantar ke tempat pelatihan. Maklum, nama Desa Ternyang sesuai dengan karakter warganya.

"Konon nama Ternyang itu bermakna Yen ora diter, ora nyang (Kalau tidak diantar, maka tidak berangkat," tuturnya.

Dari lima orang tersebut, hasil batik dijual ke pasar Rp150 ribu per potong. Ternyata animo konsumen cukup banyak dan batik laku keras.

Keberhasilan itu lantas memantik semangat ibu-ibu lainnya termasuk yang TKW. Mereka memutuskan tidak kembali ke luar negeri, kini menggeluti usaha batik. Sebab mengembangkan usaha di desa sendiri hasilnya bisa untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

Kelompok perempuan pembatik itu rutin mendapatkan kepelatihan program peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pelatihan Kerja Singosari, Malang.

"Setelah mengikuti kepelatihan, batik yang kami produksi semakin baik dan berkualitas, bisa laku Rp250 ribu per potong," katanya.

Kini, di industri rumahan itu, para ibu rumah tangga mampu memproduksi 40 batik per pekan, belum termasuk batik yang dihasilkan sendiri di rumah masing-masing. Mereka menerima banyak pesanan setelah Batik Ternyang makin populer.

Tokoh Masyarakat Desa Ternyang, Abdul Haris, mengatakan usaha bersama batik terbukti mampu meningkatkan pendapatan warga. Awalnya bermodal Rp5 juta, sekarang sudah berkembang menjadi puluhan juta. Hasil batik para perempuan desa pun membantu suami mereka dalam mencukupi kebutuhan rumah tangga.

Sementara itu, Kepala Seksi Pelatihan dan Sertifikasi UPT Pelatihan Kerja Singosari, Provinsi Jawa Timur, Sentot Fajar mengatakan pelatihan batik merupakan program pemerintah untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas tenaga kerja.

Hasil yang diharapkan adalah kualitas sumber daya manusia (SDM) lebih berkualitas, mampu bersaing di pasar global. Menurutnya ketika perempuan lebih berdaya, perekonomian desa pun semakin maju. Tumbuhnya ekonomi desa juga berimbas bisa membendung tingginya laju urbanisasi dan migrasi.

Selain batik, kata Sentot, warga desa juga dibekali keterampilan servis ponsel, gulung dinamo, finising mebel dan membuat aneka makanan olahan.

Sekarang, kesadaran dan kapasitas SDM warga setempat semakin meningkatkan. Desa Ternyang pun terus bangkit dan berdaya sekaligus melunturkan anggapan masyarakatnya selama ini 'Yen ora diter, ora nyang'. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dwi Tupani
Berita Lainnya