Semerbak Wangi Atsiri di Kota Solok

(Yose Hendra/N-2)
13/11/2018 22:30
Semerbak Wangi Atsiri di Kota Solok
(ANTARA FOTO/Irwansyah Putra)

”KOTA Solok tidak hanya beras. Di sini juga ada minyak atsiri yang biasa dipakai untuk aromaterapi. Harga serai wangi sebagai bahan baku minyak atsiri juga cukup bagus, dan menguntungkan para petani,” kata Wakil Wali Kota Solok, Reinier saat berdialog dengan  Direktur Lembaga Penelitian dan Pengembangan Kemenristek-Dikti Kemal Prihatman dan para petani minyak atsiri yang tergabung dalam Perhimpunan Petani dan Penyuling Minyak Atsiri Sumatra Barat, di ruang rapat Wali Kota Solok, Selasa (13/11).

Untuk semakin memopulerkan Kota Solok, Sumatra Barat, pemerintah kota setempat mulai mempromosikan minyak atsiri untuk aromaterapi.
Wakil Wali Kota Solok, Reinier, menjelaskan beras Solok sudah sangat populer sejak dahulu hingga sekarang. Sementara itu, potensi lainnya seperti minyak atsiri juga cukup dikenal di Kota Solok.

Reineir menjelaskan harga serai wangi sebagai bahan baku minyak atsiri semula Rp145 ribu per kilogram (kg). Namun, sekarang harga tanaman serai wangi ini mencapai Rp350 ribu-Rp360 ribu per kg.

Untuk itu, Reiner mengharapkan semua organisasi perangkat daerah (OPD) terkait bisa bersinergi agar minyak atsiri khas Solok ini bisa menjadi produk unggulan dan go international.

Ternyata minyak atsiri yang juga untuk bahan baku minyak wangi ini sudah dilirik Pemerintah Kota Marseille, Prancis. Bahkan, ada rencana Prancis berinvestasi di Kota Solok, khusus untuk membangun industri minyak atsiri sebagai bahan baku parfum.

Sejumlah OPD yang sudah bersinergi­ untuk menggolkan minyak atsiri sebagai produk unggulan­ ialah Badan Penelitian dan Pengembangan Kota Solok, Bappeda, Dinas Pertanian, serta Dinas Pariwisata.

Direktur Lembaga Penelitian dan Pengembangan Kemenristek-Dikti, Kemal Prihatman, menanggapi keinginan Pemkot Solok, mengatakan bahwa untuk menjadikan minyak atsiri sebagai produk unggulan harus memikirkan branding, keunikan­, serta indikasi geografis.
“Dalam masalah branding, minyak­ atsiri Kota Solok harus bisa meyakinkan barangnya sebagai yang terbaik, bagus, dan bersifat nasional maupun go international,” ujarnya.

Pada kesempatan sama, Edi Januardi, Ketua Perhimpunan Petani dan Penyuling Minyak Atsiri Sumbar, menjelaskan saat ini ada 80 hektare lahan yang ditanami serai wangi. “Setiap per tiga bulan, kami mampu menghasilkan 6-7 ton serai wangi, dan untuk 1 ton serai wangi menghasilkan 8 kg minyak atsiri,” kata Edi yang memiliki anggota 142 petani itu.

Saat ini Tiongkok dan India ialah eksportir utama minyak atsiri dari Solok ini. Selain untuk aromaterapi dan parfum,atsiri juga dipakai untuk pestisida alami. Limbah cair atsiri selain untuk pestisida alami, juga untuk bahan pembuatan sabun cuci.
“Jadi zero waste. Dan Pemkot Solok satu-satunya kota di Indonesia yang perhatian terhadap penyulingan­ minyak atsiri,” terang Edi.

Saat ini Edi yang membawahi enam kelompok petani sudah memproduksi minyak aromaterapi­. “Kami belum bisa menjual di toko-toko karena masih menunggu izin Badan POM,” tambahnya. (Yose Hendra/N-2)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya