Milenial Dominasi DPTHP II

Liliek Dharmawan
13/11/2018 05:00
Milenial Dominasi DPTHP II
(LILIEK DHARMAWAN)

KELOMPOK milenial mendominasi penambahan jumlah pemilih baru. Hal itu dapat dilihat pada saat penetapan daftar pemilih tetap hasil perbaikan (DPTHP) di beberapa daerah kemarin.

Seperti di Banyumas, Jawa Tengah, Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) setempat melalui rapat pleno, menetapkan ada 35 ribu pemilih baru yang didominasi kelompok milenial. Bahkan, diperkirakan jumlah pemilih masih potensial bertambah sebab masih ada 9.000 warga yang belum melakukan perekaman KTP-E.

Menurut Ketua KPU Banyumas Imam Arif Setiadi, dari hasil pencermatan, masukan dari masyarakat dan adanya gerakan melindungi hak pilih serta masukan dari Bawaslu Banyumas, pada DPTHP Tahap II ada tambahan pemilih dengan jumlah 35.935 pemilih. "Dari 35 ribu lebih pemilih tambahan, sebagian besar merupakan generasi milenial," jelas Imam seusai memimpin rapat pleno.

Dengan adanya tambahan pemilih baru dan pengurangan pemilih yang TMS, ada perubahan dalam DPTHP. Kalau sebelumnya jumlah DPT mencapai 1.330.390 pemilih, kini bertambah menjadi 1.357.646 pemilih. .

Penambahan DPT juga terjadi di Kota Surakarta. Hasil rapat pleno KPU Kota Surakarta, kemarin, menyebutkan rekapitulasi atau penetapan hasil DPT Hasil Perbaikan (DPTHP) II mencapai 421.301 atau bertambah dari DPTHP I yang jumlahnya 408.301 pemilih. "Hasil penyempurnaan DPTHP II sebanyak 421.301 terdiri 204.777 pemilih laki-laki dan 216.524 pemilih perempuan," tukas Komisioner KPU Kota Surakarta Kajad Pamuji. Menurut dia, kendala yang ditemui pada perbaikan ialah saat menyelisik migrasi penduduk, warga meninggal, pensiunan TNI/Polri, dan warga yang belum merekam KTP-E untuk hak pilih.

Pencermatan terhadap perbaikan DPTHP-1 juga terus dilakukan. Kemarin, Bawaslu Kabupaten Bangka Tengah merekomendasikan KPU untuk mencoret sebanyak 196 pemilih dari DPTHP-1. "Kita sudah melayangkan surat rekomendasi ke KPU Bateng untuk mencoret 196 pemilih dari DPT dengan berbagai alasan," kata Ketua Bawaslu Bangka Tengah, Robianto.

Atur strategi

Di sisi lain, panjangnya masa kampanye Pemilu 2019 mendorong para caleg petahana menahan diri melakukan kampanye secara besar-besaran. Mereka lebih memilih gerilya politik untuk mengajak kembali pendukungnya memenangkan dirinya. Para caleg baik untuk DPRD kabupaten/kota, DPRD provinsi, maupun DPR RI memang sudah mulai berkampanye, seperti memasang tanda gambar hingga ke desa-desa maupun berbagai kegiatan untuk mengundang simpati pemilih.

Namun, terlihat ada perbedaan antara caleg petahana dan caleg baru dalam berkampanye. Caleg petahana lebih memilih mencari simpatisan dengan cara yang lebih tertutup, sedangkan caleg baru lebih terbuka untuk memperkenalkan diri kepada warga, seperti kegiatan sosial, pemasangan gambar atau alat peraga. "Kami caleg baru, kalau tidak dengan cara seperti ini rasanya sulit dikenal calon pemilih," kata seorang caleg di Kudus. (RF/AS/BB/N-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya