Rekonstruksi Rumah Pascagempa NTB Kekurangan Tenaga Fasilitator

Indriyani Astuti
12/11/2018 18:36
Rekonstruksi Rumah Pascagempa NTB Kekurangan Tenaga Fasilitator
( ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi)

REHABILITASI dan rekonstruksi masih terus dilakukan pascagempa bumi yang terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Agustus lalu. Meskipun pemerintah telah menargetkan penyelesaian pembangunan rumah selesai dalam tiga bulan, tetapi pada kenyataannya sulit dilakukan. Salah satu kendalanya adalah karena kekurangan tenaga fasilitator di lapangan.

"Solusinya fasilitator diberikan fleksibilitas untuk merekrut tenaga lagi. Yang ada sekarang kurang jumlahnya," ujar Gubernur Nusa Tenggara Barat H Zulkieflimansyah seusai menghadiri rapat koordinasi percepatan pembangunan di NTB pascagempa yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani di Jakarta, pada Senin (12/11).

Baca juga: Wapres: Realisasi Hunian di NTB Tuntas Maret 2019

Ia juga menyampaikan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah mengusulkan teknologi rumah tahan gempa dengan model Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA). Meski demikian, model itu tidak bisa diterapkan untuk seluruh bangunan rumah.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ada sekitar 200.000 bangunan yang rusak karena gempa, 70.000 diantaranya masuk dalam kategori rusak berat.

"Walaupun sudah rigid bangunan tahan gempa, tapi fasilitator diberikan alternatif model rumah lain. RISHA belum dapat segera dibangun karena masyarakat masih trauma dengan beton. Ada alternatif lain dari kayu, tetapi nanti hutan kita gundul," imbuhnya.

Oleh karena itu, hasil rapat koordinasi memutuskan bahwa pemerintah provinsi NTB akan mengumpulkan semua fasilitator agar ada kesepahaman dalam menentukan model rumah yang akan digunakan untuk rekonstruksi bangunan yang rusak. (OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya