Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBANYAK 10.464 warga Kabupaten Mamasa Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) mengungsi akibat gempa yang menguncang wilayah itu sejak Sabtu (3/11).
Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mamasa, Daud Sattu, dihubungi dari Mamuju, Rabu (7/11) petang, mengatakan, warga yang mengungsi akibat gempa tersebut tersebar di sejumlah titik, termasuk hingga ke wilayah Kabupaten Polewali Mandar dan Kabupaten Mamuju.
"Warga mengungsi karena masih terus terjadinya gempa susulan. Warga mengungsi di sejumlah lokasi yang dampak gempanya tidak terlalu keras, termasuk ada yang mengungsi hingga ke Polewali Mandar dan Kabupaten Mamuju," kata Daud.
Pengungsi terbanyak terbanyak di Kecamatan Sumarorong, yakni mencapai 5.300 orang.
"Warga yang mengungsi terbanyak di Kecamatan Sumarorong dan sampai saat ini sudah tercatat sebanyak 5.300 orang, kemudian di beberapa titik lainnya seperti, di Kecamatan Messawa, Mambi, Tawalian, Balla, dan di sejumlah titik di Kecamatan Mamasa," ujarnya.
"Selain masih terus terjadinya gempa susulan, semakin banyaknya warga yang mengungsi akibat adanya informasi hoaks yang menyatakan bahwa ada rongga di bawah tanah yang dapat membuat bencana seperti di Petobo dan Palu, Sulawesi Tengah. Pemkab Mamasa bersama BPBD dan BMKG Majene sudah turun ke lapangan dan menyampaikan bahwa informasi tersebut tidak benar," tandas Daud.
Saat terjadinya gempa,menurut dia, Pemkab Mamasa telah mengingatkan warga tidak panik namun tetap waspada dan jika terjadi getaran harus berlari keluar rumah dan mencari tanah lapang.
"Jadi, warga yang mengungsi karena inisiatif sendiri akibat masih sering terjadi gempa susulan ditambah informasi hoaks yang banyak merebak di media sosial," kata Daud.
"Jadi, sekali lagi kami mengimbau isu bahwa ada rongga di bawah tanah itu tidak benar dan mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya dengan informasi yang beredar dan tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya," tegas Daud. (OL-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved