Dimethyl Ether Bantu Kurangi Impor Elpiji

(WB/N-2)
06/11/2018 23:00
Dimethyl Ether Bantu Kurangi Impor Elpiji
(ANTARA FOTO/Zabur Karuru)

SEJAK diberlakukannya konversi minyak tanah ke gas, kebutuhan elpiji sebagai bahan bakar di rumah tangga terus meningkat. Hingga kini pemerintah harus impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Salah satu alternatif untuk mengurangi impor elpiji ialah dengan memanfaatkan dimethyl ether (DME) sebagai bahan bakar.

Reza Sukaraharja, Kepala Lab Emisi dan Pembakaran Lemigas, Kementerian ESDM, mengatakan riset DME untuk bahan bakar sudah dilaksanakan sejak 10 tahun lalu. Apalagi pemerintah mendukung dengan Permen No 29/2013 tentang penyediaan pemanfaatan dan tata niaga DME sebagai bahan bakar.

“Sejak 10 tahun lalu kami mencari bahan bakar untuk menjadi energi baru terbarukan. Selama ini DME hanya digunakan untuk cat, Pilox, hairspray, propelan, dan solvent. Sekarang dikembangkan ke bahan bakar,” ujar Reza yang didampingi Emi Yuliarita, peneliti bahan bakar dan teknik pembakaran Lemigas, saat meninjau pabrik DME di Kabupaten Serang, Banten, Selasa (6/11).

Hasil pembakarannya ramah lingkungan karena emisinya hanya 0,05%. Hasil riset itu ditangkap industri yakni PT Bumitangerang Gas Industry, perusahaan satu-satunya di Indonesia dan Asia Tenggara yang memproduksi DME sebagai bahan bakar.

Anton, Business Development PT Bumitangerang Gas Industry, mengatakan bahan bakar DME  bisa mengurangi impor elpiji. Namun, produksi di pabriknya baru 1.000 ton per bulan, khusus untuk memenuhi kebutuhan industri seperti peternakan ayam dan pabrik tahu.  
Pascabencana di Palu, Kemenristek-Dikti, Lemigas, dan PT Bumitangerang Gas Industry mengirimkan 500 tabung DME berisi 600 ml dan kompor portabel untuk membantu dapur darurat.    

Riset yang dilakukan Lemigas itu mengantarkan lembaga tersebut menjadi calon Pusat Unggulan Iptek.

Direktur Lembaga Penelitian dan Pengembangan Kemenristek-Dikti, Kemal Prihatman, memuji hasil riset  dari Lemigas yang telah dipakai  industri. “Jadi itulah yang kita harapkan, menghi-lirkan hasil riset. DME sebagai bahan bakar bisa menekan impor elpiji. Harganya juga kompetitif. Apalagi hasil riset ini juga sudah disinergikan dengan pusat penelitian lain.”

Dia berharap semakin banyak lembaga riset sukses melakukan hilirisasi hasil riset dan diserap industri sehingga bisa memberi nilai tambah ekonomi.  (WB/N-2)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya