Dari Terra Incognita Menuju Singapore of Java

Liliek Dharmawan
21/10/2018 19:21
Dari Terra Incognita Menuju Singapore of Java
(ANTARA FOTO/Idhad Zakaria)

SUATU hari, ada kabar kalau sebuah kapal Royal George milik Kerajaan Inggris mendarat di pantai selatan Jawa dekat Pulau Nusakambangan. Kabarnya mereka membeli kopi, indigo dan mutiara. Kedatangan mereka cukup mengagetkan. Karena sebelumnya wilayah itu tidak dikenal atau dalam bahasa latin disebut terra incognita. Belanda kemudian mengirimkan satu armada beserta pasukannya pada tahun 1739. VOC tidak langsung menaruh perhatian khusus terhadap wilayah perairan yang merupakan daerah Cilacap. Baru ketika Gubernur Jenderal Belanda Johannes Graaf Van Den Bosch, mereka mulai melirik potensi pelabuhan.

Pemerintah Hindia Belanda merombak Pelabuhan Cilacap yang semula bernama Pelabuhan Donan menjadi lebih modern. Pembangunannya berbarengan dengan kebijakan tanam paksa, apalagi wilayah Banyumas subur dan cocok untuk tanaman kopi, indigo dan tebu.

Catatan itu disampaikan sejarawan Universitas Indonesia (UI) Susanto Zuhdi dalam bukunya Cilacap (1830-1942): Bangkit dan Runtuhnya Suatu Pelabuhan di Jawa. Ia menyebutkan kalau pembangunan pelabuhan di Cilacap untuk mengirimkan hasil bumi dimulai 1830. Dalam perkembangannya, juga dibangun jalur kereta api yang menghubungkan antara Cilacap-Yogyakarta. Dalam buku itu diceritakan bagaimana aktivitas kepelabuhanan, sebagai pelabuhan bisnis dan pertahanan.

Ahli sejarah asal Universitas Airlangga (Unair) Purnawan Basundoro dalam catatan blog-nya menyatakan Pelabuhan Cilacap digunakan untuk aktivitas ekspor khususnya untuk produk kopi yang dihasilkan selama praktik tanam paksa.Laporan dari Residen Banyumas G. de Seriere melalui Algemeen Verslag der Residentie Banjoemas 1832, menyebut adanya aktivitas ekspor impor dari Pelabuhan Cilacap. Barang ekspor dari Cilacap adalah kopi,tembakau, kapas, lada dan batik. Dari komoditas tersebut paling besar volumenya adalah kopi sebanyak 11.233 pikul kemudian diikuti oleh
tembakau 650 pikul, batik 390 pikul, kapas 300 pikul serta lada 190 pikul.

Dalam perjalanan sejarahnya, Pelabuhan Cilacap mengalami pasang surut akibat berbagai faktor. Misalnya menjelang perang dunia kedua, terjadi krisis ekonomi dunia, termasuk Hindia Belanda. Aktivitas pelabuhan juga mulai mundur. Surutnya pelabuhan semakin terasa ketika Jepang mengalahkan Hindia Belanda di Indonesia. Praktis, setelah Indonesia merdeka, karena usai perang, infrastruktur pelabuhan juga tidak terawat.

Pada beberapa tahun terakhir, pelabuhan di CIlacap yang kemudian bernama Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap, Jawa Tengah terus berbenah. Setelah menjadi pelabuhan dengan aktivitas bongkar muat bahan utama semen atau klinker, minyak, batubara dan lainnya, kini akan bakal terus direvitalisasi untuk komoditas lain.

Ketika Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi meninjau pelabuhan pada Agustus 2017 lalu, ia mengatakan kalau keberadaan Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap memiliki peran penting sebagai poros jalur laut wilayah selatan Pulau Jawa. Hal itu sesuai dengan Nawacita Presiden Jokowi yang membangun Tol Laut. PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III juga bergerak cepat melakukan revitalisasi dermaga di Pelabuhan Tanjung Intan.

Pada Februari lalu, Pelindo III telah merampungkan pembangunan Dermaga Multipurpose dengan nilai Rp51 miliar. Dermaga yang sebelumnya panjangnya 491 meter, kini menjadi 582 meter. Sehingga dermaga baru mampu menampung tiga kapal sekaligus. Sebelumnya, hanya untuk tambat dua kapal. Bahkan, tahun ini dialokasikan dana Rp160 miliar untuk pengembangan dermaga lagi. Ke depannya, dermaga dilengkapi dengan jalur rel crane untuk alat bongkar muat HPC (harbour portal crane) yang rencananya dipasang pada 2019.  Karena diharapkan Pelabuhan Tanjung
Intan menjadi pusat logistik di Jawa bagian selatan.

Revitaliasi juga dilakukan di kompleks Dermaga Wijayapura Pelabuhan Tanjung Intan dengan membangun jalan sepanjang 300 meter dengan lebar 10 meter dengan nilai Rp2,65 miliar. Di Dermaga Wijayapura Tanjung Intan itulah, pada Mei lalu dimulai pelayaran perdana Tol Laut Cilacap. Sebagai awalan, kapal dengan tujuan Cilacap ke Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim) hingga Celukan Bawang, Bali. Pada saat pemberangkatan awal, kapal mengangkut 1.000 ton semen produksi PT Holcim Indonesia Cilacap.

General Manager (GM) Pelabuhan Tanjung Intan PT Pelindo III Budi Siswanto mengatakan sejak pada Mei lalu, telah tujuh kali pemberangkatan. "Dari Cilacap, KM Bintan Utama berkapasitas 4.000 ton tersebut mengangkut 3.000 ton semen dari Cilacap menuju ke Banyuwangi. Sementara ini dari arah timur baik dari Celukan Bawang dan Banyuwangi, belum mengangkut apa-apa. Dalam sebulan, kapal tersebut sandar dua kali di Pelabuhan Tanjung Intan," kata Budi.

Dijelaskan oleh Budi, waktu tempuh untuk Cilacap sampai ke Celukan Bawang PP membutuhkan waktu 14 hari dengan jarak perjalanan 840-900 mil. Diharapkan, para pengusaha di Cilacap dapat memanfaatkan pembukaan Tol Laut di perairan Jawa bagian selatan.

Apa keuntungannya memanfaatkan Tol Laut? Corporate Comunications PT Holcim Indonesia Deni Nuryandain mengatakan pihaknya langsung memanfaatkan Tol Laut di selatan Jawa untuk memasarkan semen ke Banyuwangi, Jatim. "Kami memanfaatkan Tol Laut dengan mengirimkan semen sebanyak 3.000 ton setiap berangkat. Jadi dalam sebulan, Holcim dapat membawa semen sebanyak 6.000 ton," jelasnya.

Deni mengatakan dengan pengiriman via Tol Laut, maka akan lebih efisien. Kalau lewat darat, tentu Holcim pabrik Cilacap tidak mungkin mengirimkan ke Banyuwangi karena terlalu jauh. "Jadi, dengan melalui Tol Laut jauh lebih efisien. Sebab, jika menggunakan truk lewat darat mengangkut volume yang sama maka membutuhkan 100 unit dengan risiko keamanan dan keselamatan di jalan. Oleh karena itu, Holcim pilih memanfaatkan Tol Laut," ungkap Deni.

Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Cilacap Wigyo menambahkan pengiriman barang melalui Tol Laut jauh lebih murah, karena ada subsidi yang diberikan oleh pemerintah guna menjadi daya tarik para pengusaha untuk memanfaatkannya. "Sebagai contoh, pengangkutan lewat laut dari Cilacap ke Banyuwangi tarif komersialnya
mencapai Rp350 ribu per ton. Nah, dengan adanya Tol Laut, maka tarifnya hanya Rp90 ribu hingga Rp95 ribu per ton," ujarnya.

Wigyo mengatakan subsidi sengaja diterapkan, karena pemerintah kemudian menginginkan agar barang-barang yang dibawa melalui Tol Laut, jauh lebih murah jika dibandingkan dengan harga sebelumnya. "Mestinya, harga barang-barang yang dibawa lewat Tol Laut bakal lebih murah, karena memang ada penghematan ongkos transportasi. Mestinya begitu,"kata dia.

Sementara ini, lanjutnya, Tol Laut Cilacap memang masih belum optimal, karena hanya mengangkut semen dari Cilacap ke Banyuwangi. Sementara ke Celukan Bawang kemudian balik lagi ke Banyuwangi dan Cilacap belum ada barang yang dibawa. "Karena itulah, kami bersama dinas terkait di Pemkab Cilacap terus mensosialisasikan kepada masyarakat dan pengusaha untuk
memanfaatkannya. Saat ini kami tengah melakukan penjajakan dengan Kabupaten Trenggalek, Jatim. Karena di wilayah setempat ada potensi kayu olahan, batu granit dan hasil pertanian. Kini tengah digagas untuk segera membuka rute baru dengan sandar di Trenggalek," jelasnya.

Ditambahkan oleh Wigyo, selain Trenggalek, ada potensi lain di Pacitan yakni pasir slika. "Pasir slika merupakan bahan baku industri semen. Tentu saja, kalau rute itu dibuka pasir slika bisa diangkut ke Cilacap.Karena di Cilacap ada industri semen Holcim, sedangkan di Banyumas juga ada industri semen Bima. Namun demikian, yang menjadi kendala di Pacitan adalah belum ada dermaga yang siap untuk disandari kapal pengangkut barang. Di sana baru ada dermaga kapal ikan. Ini juga merupakan pekerjaan rumah ke depan. Tetapi potensi Tol Laut di Laut Selatan masih cukup terbuka lebar. Kami akan terus mensosialisasikan agar fasilitas yang telah ada dimanfaatkan," tambahnya.

Dalam berbagai kesempatan, Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamudji terus mendorong Cilacap To be Singapore of Java atau mendorong daerah setempat sebagai pusat bisnis dengan infrastruktur yang memadai, salah satunya adalah pelabuhan yang dapat dipakai untuk kegiatan ekspor dan impor. "Tol Laut merupakan salah satu program yang mendukung upaya kami To be Singapore of Java. Ada industri yang tumbuh dengan didukung infrastruktur pelabuhan, jalur KA, jalan tol dan bandara. Saat sekarang telah ada berbagai macam industri seperti Pertamina yang mengolah minyak, semen dan PLTU Cilacap,"katanya.

Meski terkesan terlalu ambisius, tetapi cita-cita itu akan terus diperjuangkan. Sebab, kalau terealisasi, maka perkembangan ekonomi khususnya di selatan Jawa akan meningkat lebih pesat. Apalagi
sebetulnya, sejarah juga telah mencatat, Cilacap yang awalnya sebagai terra incognita ternyata pernah menyandang sebagai kota di selatan yang cukup ramai, bahkan pelabuhannya berskala cukup besar dan mampu melayani ekspor dan impor dari dan ke Eropa. (OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya